Cara Mudah Membuka Kamus Bahasa Arab

  •  
  •  
  •  
  •  

Datdut.com – Salah satu kunci keberhasilan seorang penerjemah adalah berhubungan dengan pengetahuannya terkait jenis kamus sesuai kebutuhan teks yang sedang diterjemahkan.

Berdasarkan kategori lema (mufradat)-nya, kamus sendiri terbagi menjadi dua. Pertama, kamus kosakata. Kamus jenis ini biasanya hanya menyediakan padanan atau sinonim pada lema terkait.

Kedua, kamus isti-lah. Kamus jenis ini berisi penjelasan lebih rinci terkait dengan lema tertentu yang disesuaikan pada bidang apa yang menjadi fokus perhatian kamus terse-but.

Berdasarkan bahasa yang digunakan untuk memberi makna, kamus terbagi menjadi tiga: (1) kamus ekabahasa, misalnya kamus Lisan Al-Arab yang hanya menggunakan bahasa Arab; (2) kamus dwibahasa, misalnya kamus Al-Munawwir yang menggunakan bahasa Arab-Indonesia; (3) kamus multibahasa, misalnya kamus-kamus saku yang memuat tiga bahasa (Inggris-Arab-Indone-sia).

Ada beberapa pengetahuan dasar membuka kamus yang harus diketa-hui oleh seorang penerjemah.

  1. Pilihlah kamus yang sesuai dengan tingkat kesulitan dan jenis materi teks sumber (Tsu):
  • Teks sederhana, dapat mempergunakan kamus Mahmud Yunus, Abdullah Nuh, Al-Kautsar dan yang sejenis.
  • Teks dengan tingkat kompleksitas dan kesulitan bahasa menengah, dapat mempergunakan kamus Al-Munawwir, Al-Mawrid dan yang sejenis.
  • Teks modern, dapat mempergunakan Kamus Al-‘Ashri atau Hans Wehr: A Dictionary of Modern Written Arabic, juga kamus Al-Mawrid.
  • Teks dengan tingkat kompleksitas dan kesulitan bahasa berat, dapat mempergunakan kamus Al-Mu‘jam Al-Wasith atau kamus Al-Mu’jam Al-Arabi Al-Asasi dan yang sejenis.
  • Teks yang berisi informasi tentang nama (al-a’lam), dapat memper-gunakan kamus Al-Munjid.
  • Teks yang berisi tentang kata mutiara dan ungkapan populer, dapat mempergunakan Kamus Al-Azhar atau kamus Al-Mawrid.
  1. Pilihlah kamus yang relevan dengan jenis materi teks sumber (Tsu):
  • Teks yang membicarakan kosakata Alquran, dapat mempergu-nakan kamus Mu‘jam Mufradat Alfazh Alquran.
  • Teks yang membicarakan makna kosakata sulit dalam hadis, dapat mempergunakan kamus Al-Nihayah fi Gharib Al-Hadits.
  • Teks yang banyak membicarakan persoalan fikih, dapat memper-gunakan kamus Al-Mishbah Al-Munir.
  • Teks yang banyak membicarakan istilah kunci dalam bidang tasawuf, dapat mempergunakan Jami‘ Al-Ushul fi Al-Auliya’.
  • Teks yang membahas politik, dapat mempergunakan kamus istilah teknis dalam bidang politik, seperti Kamus Kontemporer Arab-Indo-nesia Istilah Politik-Ekonomi.
  • Teks yang membahas ekonomi, dapat mempergunakan kamus isti-lah teknis dalam bidang ekonomi, seperti kamus Al-Mu’jam Al-Iqtishadi wa Al-Tijari.
  • Teks yang membahas hukum, dapat mempergunakan kamus isti-lah teknis dalam bidang hukum, seperti Al-Mu’jam Al-Qanuni.
  • Teks yang berisi idiom, dapat mempergunakan kamus khusus idi-om Arab-Indonesia, seperti Mu’jam Al-Tarakib wa Al-Ibarat Al-Ishtilahiyyah atau Kamus Idiom Arab-Indonesia Pola Aktif.
  • Teks yang berisi istilah-istilah teknis dunia sains, dapat memper-gunakan kamus seperti Mu’jam Al-Mushthalahat Al-Ilmiyyah.
  • Teks yang memuat dialek lokal di Timur Tengah, dapat memper-gunakan Qamus Al-Lahjat Al-Amiyyah Al-Mishriyyah atau Kallimni Arabi.
  • Teks yang memuat istilah-istilah kemiliteran, dapat mempergu-nakan Al-Mu’jam Al-Askari Al-Mushawwar.
  • Teks yang banyak menggunakan kolokasi, dapat mempergunakan kamus kolokasi, seperti kamus Mu‘jam Al-Hafizh li Al-Mutashahibat Al-Arabiyyah.
  1. Kenali model penempatan lema kamus yang dipergunakan. Dalam hal ini, secara umum ada dua model kamus:
  • Kamus yang lemanya disesuaikan dengan urutan kosakata Arab yang dikembalikan kepada akar katanya (fi’l madhi; verba perfektif atau mashdar; verbal noun), contoh Kamus Mahmud Yunus, Al-Munaw-wir dan Al-Bishri. Sebagai contoh, untuk mencari kata مسجد pada kamus berjenis ini harus dicari pada lema-lema berabjad awal س, karena kata dasarnya سجد.
  • Kamus yang lemanya diurutkan sesuai dengan bentuk jadian (derivasi)-nya, contoh Kamus Al-Ashri, Al-Mawrid. Karenanya, kata مسجد pada kamus berjenis ini langsung bisa dicari pada lema-lema berabjad awal م.
  1. Perhatikan pola tidak teratur yang terjadi pada jam ‘ taksir. Dalam ka-sus ini bisa dimanfaatkan kamus khusus yang mengumpulkan lema bentuk mufrad dan bentuk jam‘, seperti Kamus Jamak-Mufrad atau Al-Mu’jam Al-Arabi Al-Asasi.
  2. Bila menemukan frasa yang sulit diterjemahkan secara normal, maka curigai bentuk frasa itu idiomatik. Karenanya, segeralah merujuk ke Kamus Idiom Arab-Indonesia Pola Aktif atau kamus sejenis lainnya.
  3. Agar mendapatkan informasi yang lengkap ihwal makna suatu kata, lengkapilah dengan membuka ensiklopedia yang membahas kata dimaksud dan sesuaikan dengan konteks pembahasan pada kata itu, karena tiap kata bisa saja memiliki makna yang berbeda tergantung pada konteksnya. Apabila ingin mendapatkan etimologi suatu kata, kamus yang bisa dirujuk adalah Lisan Al-Arab atau Mu’jam Al-Maqayis fi Al-Lughah.
  4. Secara umum susunan huruf yang membentuk kata dalam bahasa Arab terdiri dari tiga huruf. Oleh karenanya, buatlah analogi yang tepat dengan kata Arab berpola sejenis pada saat mencari kata yang berupa nomina. Fi’l madhi mujarrad (verba perfektum takberimbuhan) dalam pencarian di kamus, diibaratkan sebagai “rumah” (kata dasar), sementara fi’l mudhari‘ (verba imper-fektum), fi’l ‘amr (verba imperatif), dan fi’l mazid (verba berimbuhan) diibarat-kan sebagai “kamar” (kata turunan; bentuk derivasi dan infleksinya). Untuk mendapatkan arti fi’l madhi atau fi’l mujarrad, umumnya penerjemah bisa meng- Namun, untuk kasus fi’l mazid, perlu dianalogikan dengan pola yang ada dengan melakukan beberapa langkah yang nanti akan dijelaskan secara rinci di bagian contoh. Ingat, makna di kamus biasanya yang tersedia secara umum adalah untuk bentuk madhi (perfektif).

CONTOH

Untuk mencari kata يَسْتَغْفِرُ, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Langkah di-perlukan untuk analogi dengan kata lain yang tidak terlalu akrab bagi penerjemah. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan agar penerjemah bisa menemukan “rumah” dan “kamar” dari kata itu:

  1. Penerjemah harus membuang dulu huruf za’idah (afiks) pada kata itu, yaitu huruf ya’, sehingga kata itu akan menjadi سْتَغْفِرُ.
  2. Dalam bahasa Arab, tidak mungkin kata seperti ini bisa muncul, karenanya perlu ditambahkan alif sebelum kata itu. Setelah ditambahkan alif, kata itu akan menjadi اسْتَغْفِرُ.
  3. Setelah itu, kata ini dinetralkan (di-fathah-kan) harakat-nya. Kata اسْتَغْفِرُ pun akan menjadi اسْتَغْفَرَ.
  4. Pada tahap ini, penerjemah bisa mencari wazn (pola) mana yang paling sesuai dengan kata itu. Carilah pola yang terdapat zaidah (afiks) ista- sebelum kata dasarnya.
  5. Bila identifikasi penerjemah benar, maka penerjemah akan mendapatkan pola استفعل. Pola ini merupakan pola untuk fi’l mazid. Jadi, pola ini adalah “kamar” dari “rumah” yang berupa fi’l mujarrad yang berpola trikonsonantal, yaitu فعل.
  6. Berdasarkan pola ini, diketahui bahwa huruf-huruf pada kata اسْتَغْفَرَ yang merupakan “rumah” dari kata adalah huruf ke-4, 5 dan 6 (غفر), sementara huruf ke-1, 2 dan 3 merupakan zaidah (است).
  7. Bila semua langkah tadi diterapkan dengan benar, maka melalui pencarian di kamus, penerjemah akan mendapati bahwa “rumah” kata يستغفر adalah غفر dan “kamar” dari kata itu adalah استغفر.
  8. Dengan demikian, kata يستغفر mengikuti pola استفعل, karena kata يستغفر berbentuk mudhari‘ (yang dari bentuk madhinya hanya perlu diimbuhi ya’).

Lalu, bagaimana dengan kamus online atau software kamus yang beredar? Perlu diketahui bahwa dalam memasukkan lema pada pangkalan data, kamus online atau software yang baik, pasti merujuk pada kamus fisik yang dapat diper-tanggungjawabkan.

Hanya saja kamus-kamus tersebut, umumnya dibuat un-tuk tujuan kepraktisan agar bisa dipergunakan di mana-mana, juga kebanyakan baru menyediakan padanan kata dan sinonimnya.

Tak heran bila pe-rangkat-perangkat itu pada banyak kasus hanya mampu memberi arti dari suatu kata, yang terkadang meleset dari konteksnya. Hal lain yang perlu dike-tahui, alat tersebut juga lebih sering gagal dalam menerjemahkan frasa atau klausa, terlebih bila bermuatan budaya. Singkatnya, kamus-kamus itu bisa dipergunakan, tetapi tidak dapat dijadikan rujukan utama

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *