Yuk, Bersepeda ke Masjid

  •  
  •  
  •  
  •  

Azan bergema subuh itu. Kesunyian suatu perumahan kelas menengah di sudut Kota Depok, perlahan pecah. Satu per satu penghuni komplek ke luar rumah mengeluarkan sepeda. Bukan untuk pergi bekerja, tapi untuk beribadah.

Warga perumahan itu setahun ini satu demi satu meninggalkan kendaraan bermotornya. Mengayuh sepeda untuk pergi ke masjid, kini sudah jadi keseharian mereka. Di media sosial pun kini mulai banyak yang mengikuti jejak mereka.

“Mulanya cuma saya yang membawa sepeda ke masjid. Jamaah lainnya pada umumnya membawa motor, meski ada juga yang jalan kaki dan sesekali ada juga yang membawa mobil,” kata Dr. Moch. Syarif Hidayatullah yang juga merupakan dosen Fakultas dan Humaniora UIN Jakarta.

“Lama-lama ada satu-dua jamaah yang tergerak hati untuk membawa sepeda ke masjid. Dan, sekarang alhamdulillah cukup banyak jamaah yang membawa sepeda ke masjid setiap kali salat rawatib,” lanjut ustaz yang juga penulis novel Mahar Jingga ini.

Di kota-kota besar (yang sudah menular ke kampung-kampung), bersepeda adalah barang langka dan kadang terasa amat mewah. Hanya di hari-hari tertentu dan pada momen-momen tertentu, warga yang tinggal di kota, baru bisa bersepeda dengan leluasa. Salah satunya di Car Free Day (CFD), misalnya.

Hari biasa, sulit sekali rasanya, bahkan hanya untuk dibayangkan saja. Dulu sempat juga ada gerakan bersepeda ke kantor atau yang populer dengan nama “Bike To Work”.

Namun, lambat laun gerakan baik ini tak terdengar lagi gaungnya. Faktanya memang tak mudah bersepeda di hari biasa, apalagi di kota besar, dengan tingkat polusi dan teriknya udara. Belum lagi tak ramahnya infrastruktur yang mendukung para pengayuh sepeda.

Apalagi budaya kita yang sudah termotorkan (baca: kemana-mana bawa motor), membuat masyarakat pada umumnya malas bergerak, berkeringat, dan sedikit bersusah-susah. Sepertinya inilah cerminan budaya kita.

“Padahal, bergerak dan berkeringat, banyak sekali manfaat yang kita bisa dapat. Nah, kalau memang sulit mencari waktu yang pas untuk rutin bergerak dan berkeringat, maka luangkan waktu setidaknya tiap salat jamaah sekitar 5-10 menit (pulang pergi) mengayuh sepeda ke dan dari masjid,” kata Syarif, inisiator gerakan Yuk Bersepeda ke Masjid (YBM).

Menurut pria yang kini menyebarkan tagar #BikeToMasjid di media sosial ini, bersepeda ke masjid banyak sekali manfaatnya. Apalagi bersepeda di waktu salat subuh. Udara yang sehat dan segar, memberi oksigen yang istimewa pada tubuh.

Khusus salat subuh, menurut Syarif, ada yang sering sekali dilupakan. Ada keuntungan menghirup udara subuh sangat baik sekali untuk kesehatan. Padahal ini bisa menjadi pereda stres dan tekanan hidup, yang luar biasa. Sebagian pakar pengobatan alternatif bahkan menyarankan udara subuh juga bagus untuk mencegah gejala stroke.

Kata Syarif, kalau tidak bisa seluruh waktu salat jamaah dengan membawa sepeda, setidaknya magrib, isya, dan subuh, kita rutinkan mengayuh sepeda barang 5-10 menit itu. Dengan begitu, kita bisa bersepeda setiap harinya selama sekitar 30 menitan.

Perlu diingat, waktu 30 menit ini, menurut para ahli kesehatan, memang menjadi jumlah minimal yang disarankan untuk bergerak fisik dalam sehari.

Selain untuk keperluan olahraga yang kini semakin menjadi barang mahal di negeri ini, bersepeda ke masjid juga lebih menyehatkan. Bersepeda menjadi alternatif yang paling murah dan paling memungkinkan dilakukan, baik di kota maupun di desa.

“Kawan-kawan yang dulu giat Bike to Work, mungkin ini jadi alternatif yang baru,” tambahnya.

Dalam kaitan dengan ibadah, menurut Syarif, tidak ada larangan menyisipkan misi kesehatan dalam kita beribadah, apalagi salat juga termasuk ibadah fisik. Syarif berharap bila semua masjid yang melaksanakan gerakan subuh berjamaah, menganjurkan jamaahnya untuk bersepeda ke masjid.

“Itu akan luar biasa sekali. Dan, mungkin akan bisa sedikit mengubah budaya masyarakat kita yang cenderung malas bergerak,” kata Syarif yang belum ini berdakwah di Hong Kong dan Macau.

“Satu lagi, sesuai ajaran Nabi, saat bersepeda ke masjid, usahakan rute berangkat dan pulangnya tidak sama. Saat berangkat, ambil jalur A, dan pulangnya jalur B. Jadi ada fungsi refreshing dan relaksasi juga. Mungkin juga dalam hal ini Nabi mengajarkan fungsi rekreasi,” kata dai yang banyak mengisi kajian hadis di beberapa masjid kawasan Jakarta dan sekitarnya ini.

Berita Republika: http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/08/03/ou3mvu313-yuk-bersepeda-ke-masjid/

Berita Rimanews: http://rimanews.com/ideas/education/read/20170803/326960/Yuk-bersepeda-ke-masjid/

Komentar

komentar

komentar

Berkomentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *