Takdir Mazeda

  •  
  •  
  •  
  •  

Sepertiga malam kedua baru mulai setengahnya. Suara-suara alam menyisakan nyanyian kealamian sejati, sesejati sinar matahari jam dua belas siang. Tadi siang ramai hiruk-pikuk. Ada ribut-ribut.

Semula aku mengira ada yang kebakaran. Perkiraanku meleset seratus persen. Warga RW sebelah yang rumah-rumahnya digusur membakari ban-ban bekas di jalan raya. Aparat pun datang. Keributan sempat terjadi, cuma berakhir begitu saja.

Meninggalnya papa dan penggusuran warga RW sebelah mengalungkan trauma di benakku. Mungkin di benak Mazeda dan mama juga. Takdir selalu tak terpecahkan dan selalu meninggalkan banyak tanya yang sulit ditemukan jawaban pastinya.

Kematian dan penggusuran adalah takdir. Kematian sama dengan penggusuran paksa dari dunia ini dan penggusuran adalah bagian dari kematian kecil yang terus beproses.

Mazeda terus merasa ingin tahu tentang takdir. Akhir-akhir ini ia jadi terobsesi segala sesuatu tentang Tuhan. Malah ia belakangan terlihat rajin membaca buku-buku agama. Sebelumnya, nggak pernah kebayang dia bisa seperti itu.

Biasanya selain buku pelajaran, Mazeda menghabiskan waktunya untuk memelototi halaman-halaman majalah remaja, kadang-kadang tabloid yang mengupas gosip-gosip selebritis. Perubahan memang selalu mencengangkan. Apa ini yang dinamakan takdir?

Tuhan,
aku belum pernah bertemu dengan-Mu,
wajar bila salah aku mengenali-Mu,
ampunilah aku!
Tuhan,
mampukah aku menggapai-Mu
bukankah Engkau selalu tergapai dan bisa digapai?

Sobekan kertas berisi puisi itu aku temukan kemarin di lantai luar samping kamar Mazeda, persis di bawah jendela kamar. Aku mengenali tulisannya. Ya, tulisan itu memang tulisan Mazeda. Tampaknya Tuhan mulai jadi tema segala hal yang dituliskannya belakangan ini baik di puisi, cerpen, diary, maupun di coretan-coretannya.

Tuhan memang telah menyibukkan hari-harinya. Sobekan kertas itu jelas bukan yang pertama. Kemarin aku menemukan tulisan ini di inbox ponselnya, yang ternyata dikirim dari nomer Mazeda sendiri:

“Banyak orang yang mengaku bertuhan, tetapi justru lebih tidak bertuhan daripada orang yang tidak bertuhan. Ah, apa ada orang yang tidak bertuhan? Orang yang mengaku tidak bertuhan bagiku tetap bertuhan. Tuhannya adalah keinginannya untuk tidak bertuhan itu. Ada lagi, orang yang beragama X menganggap orang yang beragama Y gila! Sebaliknya, orang yang beragama Y menganggap orang yang beragama X sinting! Lalu, dari mana kebenaran suatu agama itu diukur?”

Yang jelas sekarang ini Mazeda tampak ingin melihat Tuhan dengan caranya sendiri, meski ia tetap meyakini agama yang diyakininya. Aku setuju dengan Mazeda. Tuhan memang selalu bisa dilihat dengan cara yang berbeda.

Begitu juga takdir. Sayangnya, manusia tak mau melihat Tuhan dengan cara yang berbeda. Ia ingin melihat Tuhan seperti Tuhan yang dilihat temannya, sementara Tuhan tidak mau dilihat dengan cara yang sama. Ini yang aku lihat dari Mazeda belakangan.

Mazeda pasti sudah tidur. Kamarnya ada di sebelah kamarku. Mama beberapa hari ini sering tidur menemani Mazeda. Keduanya sama-sama berusaha menghibur diri. Mungkin hanya aku di rumah ini yang masih tegar dari semula menghadapi takdir pahit kehilangan papa. O iya, ada nggak sih takdir pahit itu? Katanya semua takdir itu indah?

***

Komentar

komentar

komentar

Berkomentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *