Tafsir Surah al-Nas

  •  
  •  
  •  
  •  

AL-NÂS (MANUSIA)

Surah ke-114 dari 114 Surah

Terdiri dari 6 Ayat

 

PENGANTAR

Surah al-Nâs diturunkan sesudah surah al-Falaq [113]. Dinamai alNâs, karena kata ini terdapat pada ayat pertama surah ini. Diwahyukan di Mekah atau sebelum Nabi Muhammad Saw. berhijrah, karenanya ia termasuk surah makkiyyah. Bila sendiri, surah ini tidak diketahui mempunyai nama lain. Namun, ketika surah ini disandingkan dengan surah al-Falaq, maka kedua surah ini mempunyai nama lain: (1) al-Mu‘awwidzatayn (Dua Surah yang Berfungsi sebagai Pelindung); (2) al-Musyaqsyiqatâni (Dua Surah yang Berkicau).[1]

TEMA POKOK

Surah ini menjelaskan prinsip dalam Islam tentang perintah berlindung kepada Allah dari segala macam kejahatan yang mengganggu jiwa manusia baik yang berasal dari jin maupun dari manusia.

KEISTIMEWAAN

Keistimewaan surah ini satu paket dengan keistimewaan surah al-Falaq.

LATAR BELAKANG HISTORIS (ASBÂB AL-NÛZUL)

Latar belakang historis surah ini sama dengan latar belakang surah al-Falaq.

* * *

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

TERJEMAH

Berlindung dari Kejahatan Bisikan Setan dan Manusia (1—6)

1 Katakanlah, “Aku berlindung kepada Pengatur,[2] 2 Raja, dan Sembahan[3] manusia,[4] 3 dari kejahatan penggoda waswas[5] yang selalu menunggu kesempatan (untuk bisa mengganggu), 4 dan membisikkan (hal buruk) ke dalam hati manusia,[6] 5 (yang penggoda itu berasal) dari jin[7] dan manusia.”[8]

BENANG MERAH ANTARSURAH

Alquran dimulai dengan surah al-Fâtihah yang salah satu isinya agar manusia memohon petunjuk ke jalan yang lurus dan memohon pertolongan dari Allah Swt. Karena selalu ingin berpesan tentang kemahakuasaan Allah dan kelemahan manusia, Kitab Suci ini pun diakhiri dengan surah al-Nâs yang menganjurkan agar manusia memohon perlindungan kepada Allah dari segala bentuk kejahatan. Ini juga memberi pesan agar hamba selalu dekat dengan Allah Swt.

__________

[1] Penjelasan nama lain surah ini dapat dilihat di al-Suyuthi, tt.1: 55.

[2] Kata Pengatur merupakan terjemahan dari rabb, yang lebih sering diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan “Tuhan”. Saya memilih terjemahan itu karena kata itu memang mempunyai komponen makna [PENGATUR]. Namun, keterbatasan pemaknaan dalam bahasa Indonesia yang menyebabkan kata rabb ini sering kali diterjemahkan dengan kata “Tuhan” (lih. Q.S. al-Fatihah [2]: 2), yang terlihat sama terjemahannya dengan kata ilah, seperti dalam kalimat syahadat. Padahal, antara rabb dan ilah mempunyai komponen makna yang berbeda, sehingga konsekuensi semantiknya pastilah tidak sama. Rabb itu mempunyai komponen makna sebagai Zat yang menciptakan, memberi rezeki, memiliki, menghidupkan, mematikan, menata, memberi petunjuk, dan yang lain. Sementara itu, kata ilah lebih bermakna Zat satu-satunya yang berhak disembah dengan sepenuh kerendahan hati, ketundukan, cinta, takut, kepasrahan, doa (Sa’id, al-Madkhal ilâ al-Tafsîr al-Mawdhû‘î, Kairo: Dar al-Tawzi’ wa al-Nasyr al-Islamiyyah, 1991, h. 110; Uwdah, 1985: 91—92 dan 124). Inilah yang nanti dalam ranah Teologi Islam yang memunculkan tawhîd rubûbiyyah (dari kata rabb) dan tawhîd ulûhiyyah (dari kata ilah).         

[3] Pemaknaan ini didasarkan atas pertimbangan makna ilah dalam bahasa Arab, seperti dijelaskan pada catatan kaki nomer 1.

[4] Ayat ini menegaskan bahwa untuk mendapat perlindungan Allah, seseorang harus meyakini dan mengimani bahwa Allah itu Pengatur, Raja, dan Sembahan semua manusia (termasuk dirinya), yang pasti bisa menjaganya dari godaan yang tidak disukainya. Penerjemahan ayat 1, 2, dan 3 pada frasa rabb al-nâs malik al-nâs ilah al-nâs secara kata per kata seharusnya “Pengatur manusia, Raja manusia, dan Sembahan manusia”. Namun, secara semantis frasa ini cukup diterjemahkan seperti di atas. Ini juga sesuai dengan prinsip dalam penerjemahan. Menurut Inani (2000: 16), penerjemah yang baik akan menyesuaikan konteks, meskipun itu berbeda dengan makna yang terdapat dalam kamus. Ini juga berkait dengan kelaziman struktur bahasa Indonesia sebagai Bsa (bahasa sasaran), yang berbeda dengan kelaziman struktru bahasa Arab sebagai Bsu (bahasa sumber). Dan, penerjemahan di atas juga tidak mengganggu kemukjizatan Alquran.

[5] Waswas ini berupa segala sesuatu yang tidak bisa dilihat mata (al-Zuhayli dkk., 2002: 606).

[6] Target utamanya melupakan dan menjauhkan manusia dari mengingat Allah. Dalam konteks kekinian, banyak sekali hal yang potensial melupakan dan menjauhkan kita dari mengingat Allah. Gempuran teknologi informasi yang melingkupi kehidupan kita, seperti televisi, telepon selular, internet, dan lain-lain, telah setahap demi setahap melupakan dan menjauhkan kita akan Zat yang telah menciptakan kita.

[7] Mengutip pendapat Mujahid, al-Rahim (1995: 395) menyebut penggoda waswas ini bernama Damis, salah satu anak iblis. Meski demikian, kebenaran informasi ini ini pun belum saya ketahui diverifikasi oleh Alquran atau hadis. Pendapat yang lebih bisa diterima, dikemukakan al-Zuhayli dkk. (2002: 606) bahwa penggoda dari kelompok jin ini hanya diketahui Allah. Yang jelas, ia merupakan jin yang jahat.

[8]  Penggoda yang berasal dari kelompok manusia ini biasanya berasal dari orang terdekat atau orang yang dipercaya, sehingga penggoda itu berhasil memasukkan apa yang diinginkan ke dalam diri targetnya. Ini didukung fakta bahwa kita lebih mudah dipengaruhi oleh orang terdekat kita, karena kita menganggap orang itu tidak mungkin menjerumuskan kita. Padahal, faktanya tidak selalu demikian. Apalagi, kita cenderung sungkan atas nama solidaritas persaudaraan atau pertemanan untuk menolak ajakan negatif orang yang terlihat teman tapi sebetulnya perlahan membawa kita ke neraka. Ini pula yang dipesankan Allah dalam Q.S. al-An‘âm [6]: 112.

Komentar

komentar

komentar

Berkomentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *