Tafsir Surah al-Falaq

  •  
  •  
  •  
  •  

AL-FALAQ (FAJAR)

Surah ke-115 dari 114 Surah

Terdiri dari 5 Ayat

 

PENGANTAR

Surah al-Falaq diturunkan setelah surah al-Fîl [105] dan lebih dulu daripada surah al-Nâs [114]. Dinamai alFalaq, karena kata ini beberapa kali disebut dalam surah ini. Diwahyukan di Mekah atau sebelum Nabi Muhammad Saw. berhijrah, karenanya ia termasuk surah makkiyyah. Bila sendiri, surah ini tidak diketahui mempunyai nama lain. Namun, ketika surah ini disandingkan dengan surah al-Nâs, maka kedua surah ini mempunyai nama lain: (1) al-Mu‘awwidzatayn (Dua Surah yang Berfungsi sebagai Pelindung); (2) al-Musyaqsyiqatâni (Dua Surah yang Berkicau).[1]

TEMA POKOK

Surah ini menjelaskan prinsip dalam Islam tentang perintah berlindung kepada Allah dari segala macam kejahatan.

KEISTIMEWAAN

Rasulullah Saw. mengatakan, “Saya belum pernah melihat ayat yang diturunkan melebihi dari Q.S. al-Falaq [113] dan Q.S. al-Nâs [114],” (H.R. Muslim, CD-ROM 2000, n.h. 1348; al-Tirmidzi, CD-ROM 2000, n.h. 2827).

Ada beberapa riwayat lain yang menginformasikan keistimewaan surah al-Nâs. Surah ini dinilai memiliki keistimewaan, antara lain: (1) selalu dibaca Nabi sebelum tidur (H.R. al-Bukhari, CD-ROM 2000, n.h. 4630; (2) sebagai bacaan yang paling berbobot di sisi Allah (H.R. al-Nasa’i, CD-ROM 2000, n.h. 944); (3) sebagai bacaan untuk perlindungan yang terbaik (H.R. al-Nasa’i, CD-ROM 2000, n.h. 5334); (4) sebagai surah terbaik (H.R. al-Nasa’i, CD-ROM 2000, n.h. 5341); (5) surah yang diperintahkan Nabi untuk dibaca setelah salat (H.R. al-Tirmidzi, CD-ROM 2000, n.h. 1319).

LATAR BELAKANG HISTORIS (ASBÂB AL-NÛZUL)

Latar belakang historis surah ini terkait dengan peristiwa ketika Rasulullah Saw. sakit parah akibat disihir[2] seorang Yahudi yang bernama Labid ibn al-A‘sham. Lalu, ada dua malaikat yang dikirim Allah untuk membantu Nabi. Menurut informasi dua malaikat ini, sihir yang berupa 11 simpul sihir itu diletakkan Labid di bawah batu yang ada di satu sumur tua milik seorang penduduk. Atas kejadian itu, Allah menurunkan surah ini dan surah al-Nâs. Jumlah ayat kedua surah ini sebanyak 11 ayat (surah al-Falaq terdiri dari 5 ayat, sementara surah al-Nâs terdiri dari 6 ayat). Setiap kali satu ayat yang dibaca dari kedua surah ini, setiap kali itu pula satu simpul sihir terbuka (lih. al-Suyuthi dalam al-‘Ikk, 1994: 604; al-Zuhayli dkk., 2002: 606).

* *

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Berlindung dari Segala Bentuk Kejahatan (1—5)

1 Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai fajar,[3] 2 dari kejahataan semua (makhluk) yang telah Dia ciptakan,[4] 3 dari kejahatan malam yang telah larut,[5] 4 dari kejahatan wanita peniup simpul sihir,[6] 5 dan dari kejahatan orang yang sedang mendengki.”[7]

BENANG MERAH ANTARSURAH

Surah al-Falaq memerintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah Swt. dari segala bentuk kejahatan. Ada beberapa alasan mengapa kedua surah ini diletakkan berdampingan dan kebetulan latar belakang historisnya sama: (1) kedua surah ini sama-sama mengajarkan untuk hanya berlindung kepada Allah dari segala bentuk kejahatan; (2) surah al-Falaq memerintahkan untuk memohon perlindungan dari segala bentuk kejahatan, sementara surah al-Nâs memerintahkan untuk memohon perlindungan dari jin dan manusia.

[1] Penjelasan nama lain surah ini dapat dilihat di al-Suyuthi, tt.1: 55.

[2] Ini sama sekali tidak menggangu Nabi sebagai manusia ma‘shûm (terjaga). Al-Shawi (tt.4: 315—316) ke-ma‘shûm-an ini berlaku hanya pada apa yang bisa mengganggu kemampuan kognitif Nabi, menggangu keberlangsungan syariatnya, dan mengganggu kehidupannya. Nabi terjaga dari semua hal itu. Namun, hal-hal yang di luar itu, yang masuk dalam kejadian yang dialami manusia pada umumnya, seperti beliau terluka atau sakit, sama sekali tidak mengganggu ke-ma‘shûm-an beliau. Ini diperkuat oleh pendapat al-Zuhayli dkk. (2002: 606). Menurutnya, sihir ini hanya mempunyai pengaruh pada sebagian urusan dunia saja, seperti rasa sakit panas yang dirasakan Nabi. Sihir ini sama sekali tidak berpengaruh secara psikis, sehingga tidak menggagu tugas Nabi untuk menerima wahyu. Beberapa ahli menyebut lama Rasulullah tersihir. Ada yang mengatakan empat puluh hari, ada yang menyebut enam bulan, dan bahkan satu tahun (lih. al-Shawi, tt.4: 315).

[3] Penyebutan fajar di sini menandakan bahwa waktu ini penting. Mungkin di antara alasannya bahwa waktu subuh merupakan titik peralihan dari malam menuju siang, dari gelap menuju terang, dari kematian sementara menuju kehidupan sementara. Ini pula yang menjadi sifat dasar Islam. Agama ini memfasilitasi perpindahan dari masa jahiliyah (gelap rohani) menuju masa Islam (cahaya rohani). Inilah yang mengalihkan kepercayaan orang yang hidup pada masa itu dari sihir, takhayul, dan ketakutan psikologis lainnya, menuju kepercayaan yang menentramkan.

[4]  Ayat ini menjadi generic term (global), sementara tiga ayat setelahnya merupakan specific term (detail). Tiga ayat ini mewakili tiga ketakutan: (1) ketakutan akan kejahatan fisik, yang dilambangkan kegelapan malam; (2) ketakutan akan kejahatan psikis dari luar diri, yang dilambangkan dengan sihir; (3) ketakutan akan kejahatan psikis dari dalam, yang dilambangkan dengan sifat dengki yang juga potensial kita miliki.    

[5]  Malam yang larut menjadi perlambang kegelapan fisik. Sebelum dunia terang-benderang seperti sekarang, kegelapan fisik merupakan ancaman yang paling menakutkan. Kecelakan, perampokan, sihir, malapetaka, dan musibah, selalu menjadi ancaman paling serius bagi umat-umat sebelumnya. Ancaman ini juga bukan berarti sudah hilang dari kita yang hidup di era yang terang-benderang ini. Malam tetap menyimpankan ketakutan tersendiri kalau kita tidak memasrahkan seluruh hidup kita pada Sang Pencipta.

[6] Penyebutan wanita peniup simpul sihir di sini memberi pesan bahwa penyihir wanita mempunyai kekuatan yang luar biasa. Menurut Ali (1996: 1674), ini terkait dengan black magic yang dipraktikkan wanita sesat. Ini juga senada dengan Q.S. Yusuf [12]: 28 yang menyebutkan bahwa tipu daya wanita itu luar biasa, sementara tipu daya setan hanya dinilai biasa saja (lih. Q.S. al-Nisâ’ [4]: 76). Informasi lain yang juga senada bisa ditemukan di hadis Nabi yang menginformasikan bahwa mayoritas penghuni neraka itu perempuan (lih. H.R. al-Bukhari, CD-ROM 2000, n.h. 28). Kesan seperti ini tidak berarti dilandasi atas kebencian terhadap wanita. Bila ingin secara arif memahami, maka ayat, hadis, atau informasi sejenis ini harus dipahami secara komprehensif. Ayat, hadis, atau informasi sejenis ini dalam Islam memerlukan kejernihan berpikir bahwa informasi-informasi itu komunikan (mukhâthab)-nya saat ayat itu diturunkan adalah lelaki. Atau, bisa juga melihat informasi lain bahwa di akhir zaman jumlah wanita lebih banyak daripada jumlah lelaki (lih. H.R. al-Bukhari, CD-ROM 2000, n.h. 79). Dengan demikian, semua potensi “keluarbiasaan” seperti di atas bisa sangat memungkinkan. Ini juga menafikan potensi “keluarbiasaan” seperti di atas yang diidap lelaki.

[7]  Dengki (hasad) itu tidak menyukai orang lain mendapatkan kenikmatan dan menginginkan kenikmatan itu berpindah tangan pada dirinya (al-Jurjani, 1988: 87). Sebagai manusia, potensi sifat ini pasti kita miliki. Hanya kemampuan mengontrolnya yang membedakan masing-masing kita. Ketika kita tidak bisa mengontrolnya, maka sifat ini akan mengontrol hidup kita lahir-batin. Secara umum, sifat dengki tidak ada yang dibenarkan dalam Islam. Hanya ada dua sifat dengki yang dibenarkan dalam Islam: (1) dengki kepada orang kaya yang mau menyedekahkan hartanya; (2) dengki kepada orang yang mau mengamalkan ilmu dan hikmah yang diterimanya (lih. H.R. al-Bukhari, CD-ROM 2000, n.h. 71).

Komentar

komentar

komentar

Berkomentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *