Tafsir Surah al-Baqarah (1-5)

  •  
  •  
  •  
  •  

AL-BAQARAH (SAPI)[1]

Surah ke-2 dari 114 Surah

Terdiri dari 286 Ayat

 

PENGANTAR

Surah al-Baqarah adalah surah terpanjang di Alquran. Ayat 282 surah ini juga diketahui sebagai ayat terpanjang di Alquran.  Dinamai al-Baqarah, karena di dalam surah ini dikisahkan penyembelihan sapi yang diperintahkan Allah kepada Bani Israel. Diwahyukan di Madinah atau setelah Nabi Muhammad Saw. berhijrah, karenanya ia termasuk surah madaniyyah. Nama lain surah ini: (1) Fusthâth al-Qur’ân (Puncak Alquran), (2) Alif, Lâm, Mîm (Surah yang Terdapat Kata Alif, Lâm, Mîm); (3) Sinam al- Qur’ân (Bonggol Alquran).[2]

TEMA POKOK

Surah ini menjelaskan beberapa prinsip dalam Islam, antara lain: (1) ajakan iman kepada umat Islam, Ahlulkitab (Yahudi dan Nasrani), dan kaum musyrikin, (2) ibadah dan muamalah, (3) kisah para nabi, (4) sifat orang yang bertakwa, sifat orang munafik, dan sifat Allah; (5) beberapa perumpamaan; (6) kiblat; (7) kebangkitan setelah mati; dan (8) hal lain.

KEISTIMEWAAN

Rasulullah Saw. bersabda, “Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan. Rumah yang dibacakan surah al-Baqarah tidak akan dimasuki setan, “ (H.R. al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzî, 2802).

Ada beberapa riwayat lain yang menginformasikan keistimewaan surah al-Baqarah. Surah ini dinilai memiliki keistimewaan, antara lain: (1) penuh berkah (H.R. Muslim, CD-ROM 2000, n.h. 133); (2) penangkal sihir (H.R. Muslim, CD-ROM 2000, n.h. 1337); (3) menjadi awan yang menaungi pembacanya di Hari Kiamat kelak (H.R. Muslim, CD-ROM 2000, n.h. 1337); (4) bonggol Alquran (H.R. al-Tirmidzi, CD-ROM 2000, n.h. 2803).

LATAR BELAKANG HISTORIS (ASBÂB AL-NÛZUL)

Beberapa ayat di surah ini memiliki latar belakang historis yang mengiringi proses diturunkannya ayat-ayat itu, seperti ayat 6, 14, 19, 26, 44, 62, 76, 79, 89, 94, 97, 99, 102, 104, 106, 108, 113, 114, 115, 118, 119, 120, 125, 130, 135, 142, 154, 158, 159, 164, 170, 174, 177, 178, 184, 186, 187, 188, 189, 190, 195, 196, 197, 198, 199, 200, 204, 207. 208, 214, 215, 217, 219, 220, 221, 222, 223, 224, 228, 229, 230, 231, 232, 238, 240, 241, 245, 256, 257, 267, 272, 278, 285. Penjelasan lengkap mengenai asbâb al-nuzûl ayat-ayat tersebut dihadirkan pada saat menafsirkan ayat terkait.                                                                        

TERJEMAH

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Tipologi Kelompok Beriman (1—5)

1 Alif, Lâm, Mîm.[3] 2  Inilah Kitab Suci (Alquran) yang tidak diragukan (kebenaran)nya dan merupakan petunjuk bagi orang yang (ingin) bertakwa,[4] 3 percaya kepada hal gaib,[5] mengerjakan salat, menginfakkan (dalam bentuk zakat atau sedekah) sebagian rezeki yang Kami[6] karuniakan kepada mereka, 4 percaya kepada Alquran yang telah diturunkan kepadamu[7] (Muhammad), dan (percaya) kepada kitab-kitab suci yang telah diturunkan (kepada para nabi) sebelum kamu, serta meyakini adanya Hari Kemudian. 5 Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhan. Merekalah yang beruntung (karena akan berhasil mendapatkan apa yang dicari).

[1] Surah ini sering kali diterjemahkan sebagai ‘sapi betina’. Kekurangakuratan ini disebabkan kesalahan dalam mengidentifikasi –h (transkipsi untuk ta’ marbuthah (ة [-t]) yang dibaca waqf, yang dalam morfologi Arab sebagai penanda feminin [‘alâmah al-ta’nîts]). Padahal baqarah itu bermakna ‘seokor sapi’. Ia berpola marrah  (nomen unitatis, yang bermakna ‘satu’, ‘seekor’) dari bentuk tunggal baqar, yang berlaku untuk sapi jantan maupun sapi betina. Bentuk jamak kata baqar adalah abqâr atau baqarât (lih. al-Ashfahani, Mu‘jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân, Beirut: Dar el-Fikr, tt, h. 54; Umar dkk., al-Mu‘jam al-‘Arabî al-Asâsî, Tunis: Larus, 2003, h 168; al-Rahim, Mu‘jizât wa ‘Ajâ’ib min al-Qur’ân al-Karîm, Beirut: Dar el-Fikr, 1995, h. 386; Anis dkk., al-Mu‘jam al-Wasîth, Kairo: Dar al-Ma‘arif, 1960, h. 65; Wehr, 1980: 68).

[2] Penjelasan nama lain surah ini dapat dilihat di al-Suyuthi, tt.1: 55.

TAFSIR

[3] Hanya Allah yang paling tahu maksud ayat ini, meskipun ada banyak ulama yang menyumbangkan pendapatnya terkait dengan ayat-ayat di awal surah, yang dianggap sebagai ayat mutasyâbih ini.

[4] Takwa adalah menjauhi segala jenis maksiat dan menjalankan semua kewajiban. Ciri takwa: (1) tawakal secara maksimal atas apa yang belum diperoleh; (2) rida secara maksimal atas apa yang sudah diperoleh; (3) sabar secara maksimal atas apa yang telah berlalu (lih. al-Qusyayri, al-Risâlah al-Qusyayriyyah, Beirut; Dar el-Khayr, tt., h. 106).

[5] Hal gaib: Allah, malaikat, kebangkitan setelah mati, surga, neraka, kejadian pada Hari Kiamat, dan semua yang tak terindera.

[6] Setiap kata “Kami” (dengan huruf K kapital) mengacu pada Allah. Kata “Kami” digunakan bukan berarti Allah tidak Maha Esa. Penggunaan kata ini menunjukkan aktivitas dalam konteks kalimat melibatkan makhluk-Nya. Dalam konteks ini, aktivitas mengaruniakan rezeki melibatkan malaikat yang bertugas memberi rezeki dan sesama manusia yang menjadi perantara rezeki diterima seseorang.

[7] Pada banyak ayat, kata ganti persona kedua tunggal “kamu” atau kata ganti persona kedua tunggal posesif “-mu”, mengacu pada Nabi Muhammad Saw.

Komentar

komentar

komentar

Berkomentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *