Napak Tilas Jejak Intelektual KH. Ali Mustafa Yaqub

  •  
  •  
  •  
  •  

Santri dan alumni Ma’had Darussunnah Ciputat Tanggerang mengenang jejak langkah Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub dengan mengadakan Haul pedana di Aula lantai 3 pondok yang didirikan pakar hadis Indonesia itu pada Sabtu (15/04/2017). Pada moment haul ini, panitia penyelenggara mengadakan seminar nasional dengan tema “Napak Tilas Jejak Intelektual KH. Ali Mustafa Yaqub”.

Selain seminar, panitia juga mengadakan bedah buku Khodimun Nabi terbitan Pustaka Tebuireng karya H. Cholidi Ibhar. Acara ini diikuti oleh segenap santri dan alumni lainnya dengan narasumber penulis buku Khodimun Nabi, H. Cholidi Ibhar, putra tunggal KH. Ali Mustafa Yaqub, H. Zia Ul Haramaen, Lc., dan dua alumnus senior Darussunnah Ustadz Dr. Nurul Huda Ma’arif, Lc., MA. dan Ustadz Dr. Moch. Syarif Hidayatullah, Lc., MA.

Penulis yang juga merupakan adik angkatan Almarhum semasa nyantri di Tebuireng mengenang kembali sosok beliau saat menjadi kakak seniornya. “Mas Ali itu orangnya orangalor lan ora ngidul (Mas Ali itu, tidak ke utara juga ke selatan),” tutur Dosen IAINU Kebumen tersebut di depan semua peserta seminar dengan maksud menceritakan keajekan beliau.

Ia juga bercerita bahwa semasa nyantri di Pesantren Tebuireng, Kiai Ali dikenal mempunyai kebiasaan berdiam diri untuk belajar di pojok kanan masjid. “Tradisi beliau saat nyantritidak lepas dari shalat jamaah, mengaji, khotmil qur’an, halaqah, sorogan dan musyawarah,” tutur alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut.

Pakar hadis alumnus Tebuireng ini, lanjut Haji Ibhar, juga merupakan sosok yang tegas, disiplin, peduli kerapian dan cinta kebersihan. Suasana seminar dan bedah buku semakin hiruk pikuk dalam kenangan duka mendalam saat mengenang sosok ulama hadis kebanggaan Indonesia itu.

Kepribadian Kiai Ali yang istikamah, tegas, dan disiplin, menurut Pak Ibhar, tidak lain juga karena pengaruh guru-guru beliau di Tebuireng, seperti KH. Idris Kamali dan KH. Sansuri Badawi yang disiplin dan keras ketika mengajar. Inspirasi Kiai Ali menjadi ahli hadis, juga tak bisa lepas dari sosok Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang merupakan ulama pakar hadis.

H. Ibhar menyebut mantan Imam Besar Masjid Istiqlal dengan motto wala tamutunna illa wa antum katibun (jangan mati kalian, kecuali kalian menjadi penulis) itu sebagai lautan keilmuan. Oleh karena itu, dalam sesi terahhir ia mengajak para santri dan alumni Darussunnah untuk menghadiahkan satu karya tulis dalam setiap haul beliau untuk mengikuti motto mulia tersebut.

“Bersungguh-sungguhlah dalam mencari ilmu, dan mencari ilmu juga harus disertai dengan riyadhah,” pesan H. Cholidi Ibhar mengenang seniornya di Tebuireng, KH. Ali Mustafa Yaqub.

 

Sumber: http://tebuireng.online/napak-tilas-jejak-intelektual-kh-ali-mustafa-yaqub/

Komentar

komentar

komentar

Berkomentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *