Menemukan Suasana Pesantren di Hong Kong

  •  
  •  
  •  
  •  

Menyusuri Victoria Park, Hong Kong kali ini seolah berada di tengah lingkungan pesantren. Jelang waktu berbuka puasa, mulai dari Jalan Causeway Bay dekat KJRI Hongkong, dipenuhi buruh migran Indonesia (BMI) yang berjilbab rapi bak para santri.

Puluhan halakah, mulai yang kecil hingga besar mengelilingi taman paling strategis nan ramai di kawasan Hong Kong itu. Kelompok diskusi itu berasal dari kumpulan majelis taklim BMI.

Saking terkesimanya, penulis benar-benar tidak merasa tengah berada di kota dengan jumlah penduduk muslim yang sebenarnya minoritas itu. Tak ada pengawasan dan pemantauan berlebih dari aparat keamanan setempat. Semua bisa berjalan normal dan khidmat.

Tentu saja, hal ini juga menjadi pemandangan yang menarik perhatian masyarakat sekitar. Akan tetapi, tak ada tanda-tanda risih atau terganggu. Mereka tetap berlalu-lalang sebagaimana biasanya.

Bahkan, ada juga yang mengabadikan berbagai kegiatan BMI itu dalam jepretan foto dan rekaman video.

Di antara puluhan halakah yang hari itu mengadakan buka bersama, salah satunya diisi Dompet Dhuafa (DD), Hong Kong. “Tak kurang dari 400 BMI ikut dalam kegiatan Pondok Ramadan kali ini. Mereka datang hampir dari seluruh Hong Kong dan berasal tidak kurang dari 14 majelis taklim, mitra dan binaan Dompet Dhuafa Hong Kong,” kata Direktur DD Hong Kong, Mohammad Ilham.

Halakah menghadirkan Ustaz Dr. Moch. Syarif Hidayatullah, Kepala Program Studi Tarjamah Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta. Hadir pula Ustaz Suhendi Al-Khattab, sekretaris IKADI Kota Bogor.

Syarif mengatakan, sebelum ke Victoria Park, dia sempat mengisi kegiatan serupa di kawasan Hang Hau. Pemandangan yang kurang lebih sama juga dilihatnya di sana. Nuansa pesantren yang paling kental dan mengejutkan juga ia temui saat mengisi kegiatan di Tsim Sha Tsui Kowloon.

Menurut dia, lautan manusia membentuk halakah-halakah di belakang Masjid dan Islamic Center Kowloon membuat merinding. Mereka melakukan banyak kegiatan, mulai pengajian, setoran tahfiz, tahsin, hingga belajar Iqra. Pengunjung memadati taman yang merupakan fasilitas umum di kota itu.

“Saya benar-benar merasa sedang berada di suatu pesantren besar. Mungkin seperti berada di Pesantren Gontor atau pesantren-pesantren besar di Jawa Timur dan Jawa Tengah,” kata Syarif yang merupakan dai yang dikirim Corps Dompet Dhuafa (Cordofa) untuk berdakwah di Hong Kong dan Macau selama Ramadan ini.

Sumber:

http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/kabar-ramadhan/17/06/13/org5fn313-nuansa-pesantren-di-pondok-ramadhan-bmi-hong-kong

http://ramadan.metrotvnews.com/pernak-pernik-ramadan/aNrwx0zb-menemukan-suasana-pesantren-di-hongkong

Komentar

komentar

komentar

Berkomentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *