Kitab Hadis Shahîh yang Pertama Kali Ditulis

  •  
  •  
  •  
  •  

Kitab Hadis yang pertama kali secara khusus membahas mengenai Hadis-hadis dalam kategori shahîh adalah kitab Shahîh al-Buk­hârî. Kerja al-Bukhârî itu kemudian diikuti oleh Muslim dalam karyanya, Shahîh Muslim. Dua karya inilah yang diyakini sebagai karya yang paling otentik, setelah al-Qur’an.

Di antara dua karya itu, Shahîh al-Bukhârî mempunyai tingkat kesahihan lebih tinggi daripada Shahîh al-Muslim. Di samping kekayaan kandungannya yang memang sangat bermanfaat. Meski begitu, ada sebagian orang yang berpendapat bahwa Shahîh al-Muslim lebih shahîh Hadis-hadisnya daripada Hadis-hadis yang terdapat dalam Shahîh al-Bukhârî.

Dalam hal ini, pendapat pertama, menurut penulis, lebih tepat. Karena Muslim, dalam karyanya tersebut, hanya memfokuskan pada pengumpulan jalur-jalur Hadis tentang suatu tema.

Kedua tokoh besar Hadis ini sama-sama tidak memuat secara lengkap semua Hadis shahîh yang ada. Memang ada pendapat yang menyatakan bahwa dalam kedua karya ini hanya sedikit Hadis shahîh yang tidak termuat di dalamnya. Namun pendapat ini tidak disetujui oleh para ulama. Menurut para ulama, yang tepat bahwa hanya sedikit Hadis-hadis shahîh yang tidak termuat dalam lima kitab pokok Hadis (kutub al-khamsah), seperti kitab Shahîh al-Bukhârî, Shahîh Muslim, Sunan Abî Dâud, Sunan al-Tirmidzî, dan Sunan al-Nasâ’î.

Hadis shahîh yang termuat dalam Shahîh al-Bukhârî seluruhnya berjumlah 7275 Hadis. Jumlah ini berikut Hadis-hadis yang disebutkan secara berulang-ulang.

Jumlahnya akan menyusut, setelah tidak menyertakan Hadis-hadis yang diulang, hanya sekitar 4000 Hadis. Sedang dalam Shahîh al-Muslim dengan tanpa memasukkan Hadis-hadis yang diulang, jumlahnya mencapai sekitar 4000 Hadis.

Untuk mengetahui jumlah tambahan Hadis-hadis shahîh yang beredar, bisa diketahui melalui kitab-kitab sunan yang telah diakui, seperti Sunan Abî Dâud, Sunan al-Tirmidzî, Sunan al-Nasâ’î, Sunan Ibnu Khuzaimah, Sunan al-Dâruquthnî, Sunan al-Hâkim, Sunan al-Baihaqî, dan kitab-kitab lain yang telah dipastikan kesahihannya.

Suatu Hadis yang tercantum dalam kitab-kitab tersebut tidak serta merta bisa mengakibatkan Hadis itu bisa dinilai shahîh. Kecuali jika Hadis itu terdapat dalam sebuah kitab seorang ahli Hadis yang hanya memuat Hadis-hadis shahîh.

Al-Hâkim, adalah salah satu di antara ahli Hadis yang telah berusaha keras untuk membuat suatu karya yang memuat Hadis-hadis shahîh yang tidak termuat dalam kedua kitab shahîh itu.

Tapi Hadis-hadis dimaksud  lebih dulu harus memenuhi kualifikasi kesahihan al-Bukhârî dan Muslim. Sayangnya, al-Hâkim, di kalangan ahli Hadis, dinilai sebagai seorang ahli Hadis yang mutasâhil (ceroboh) dalam memberikan penilaian terhadap sebuah Hadis.

Karenanya, suatu Hadis yang dianggap shahîh oleh al-Hâkim, sedang pada kitab-kitab yang telah diakui tidak ditemukan suatu keterangan yang memberikan penjelasan bahwa Hadis itu shahîh atau keterangan sebaliknya, yaitu bahwa Hadis itu dla’îf.

Maka Hadis tersebut ditetapkan sebagai Hadis hasan. Kecuali jika diketahui ada faktor yang bisa menjadikan Hadis tersebut menjadi dla’îf. Di samping al-Hâkim, ada beberapa tokoh lain yang juga dikenal mutasâhil, seperti Abû Hâtim dan Ibnu Hibbân.

(Diambil dari buku Dasar-dasar Ilmu Hadis karya Imam Nawawi yang diterjemahkan oleh Dr. Moch. Syarif Hidayatullah dari kitab al-Taqrib w a al-Taisir li Ma’rifati Sunan al-Basyir wa al-Nadzir)

Komentar

komentar

komentar

Berkomentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *