Khotbah Jihad dari Aceh Abad ke-19: Suntingan Teks dan Telaah Wacana

  •  
  •  
  •  
  •  

Beragam teori mengenai kedatangan Islam di Nusantara (baca: Indonesia), mulai dari kapan, siapa pembawa, sampai dari mana asalnya, telah dikemukakan para peneliti.[1] Meski beragam, namun ada benang merah yang menghubungkan masing-masing teori tersebut bahwa Islam menyebar di Nusantara secara damai, dari satu wilayah ke wilayah lain, dan sekurang-kurangnya dalam tujuh abad Islam telah menyebar ke seluruh pelosok Nusantara. Selain itu, yang juga bisa dipastikan bahwa kehadiran Islam turut mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat di Nusantara.

Penelitian Riedl (2001) memperlihatkan bermacam unsur dalam Islam, seperti doktrin, perdebatan, teologi, penulisan mushaf, tafsir, hukum, mistik, pemikiran, dan gerakan pembaruan, ikut serta dalam mengembangkan Nusantara, mulai abad ke-16 hingga abad ke-20. Islam mempengaruhi tidak hanya pada ajaran dan pemikiran keagamaan, tetapi juga pada sistem tulis dan bahasa (Chambert-Loir, 2009: 11). Dengan kata lain, penerimaan masyarakat Nusantara terhadap Islam, membawa serta akulturasi budaya Islam dengan budaya lokal.

Salah satu produk budaya Islam yang diterima oleh masyarakat Nusantara adalah khotbah keagamaan pada hari-hari besar Islam dan hari-hari penting lainnya. Produk budaya Islam ini dapat ditemui di berbagai daerah di Nusantara. Berdasarkan penelusuran awal saya pada beberapa katalog, seperti Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang disunting Behrend (1998), terdapat tidak kurang dari 8 naskah khotbah;[2] Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Sulawesi Selatan yang disunting oleh Paeni (2003), terdapat tidak kurang dari 67 naskah khotbah;[3] Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jawa Barat: Koleksi Lima Lembaga yang disunting Fathurahman (1999), terdapat 6 naskah khotbah;[4] Katalog Naskah Buton yang disunting Zahari dan Ikram (2001), terdapat 3 naskah khotbah.[5] Selain itu, tim dari Yayasan Naskah Nusantara (2009-2010) yang meneliti naskah-naskah Ambon yang tersimpan di masyarakat, juga mendapati sekurang-kurangnya 26 naskah khotbah. Umumnya merupakan naskah khotbah Jumat, di samping khotbah Idul Fitri, khotbah Idul Adha, khotbah istisqa, khotbah nikah, khotbah dorongan berjihad, dan khotbah karbala (dalam tradisi Syiah).[6] Semua data khotbah yang terdapat dalam katalog-katalog tersebut, tidak termasuk naskah khotbah yang masih disimpan masyarakat dan belum terkatalogkan.[7]

Bila memperhatikan naskah khotbah yang terekam dalam katalog-katalog tersebut, maka diketahui bahwa meskipun pada umumnya khotbah disampaikan dengan menggunakan ragam lisan, namun sebagian naskah khotbah juga disajikan dalam ragam tulis. Ini setidaknya memperlihatkan ada upaya dari para khatib di zaman itu untuk membuat struktur wacana khotbah lebih sistematis dan tersimpan sebagai data yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Menariknya lagi, tidak seperti pada kebanyakan naskah Islam lainya, naskah khotbah tidak hanya tersimpan dalam bentuk dijilid seperti buku, tetapi ada juga yang dalam bentuk gulungan (rotulus; mathwî), dengan kertas saling menempel satu sama lain dan memanjang seukuran panjang khotbah. Sebagian naskah juga berilmuninasi. Dalam tradisi kodikologi Arab, ternyata bentuk naskah gulungan dan beriluminasi untuk naskah khotbah, mempunyai sejarah yang panjang dan banyak ditemukan di Timur Tengah (al-Khadrami, 2010) dan dunia Islam pada umumnya (Deroche, 2006: 30). Menurut al-Khadrami, ada beberapa alasan mengapa naskah khotbah dibuat dalam bentuk seperti itu, di antaranya: (1) mempermudah khatib dalam membaca khotbahnya; (2) memperindah tampilan naskah; (3) menambah kewibawaan dan kepercayaan diri sang khatib.

Hal lain yang juga menarik dibicarakan adalah terkait penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar khotbah. Meskipun masyarakat Nusantara saat itu pada umumnya tidak berbahasa ibu bahasa Arab, tetapi khotbah yang ditemukan di beberapa daerah justru menggunakan bahasa Arab. Meskipun ditemukan beberapa khotbah yang menggunakan bahasa lokal atau yang dipadukan dengan bahasa Arab, tetapi hal itu baru banyak muncul setelah abad ke-20, karena kebanyakan naskah khotbah yang ditemukan sebelum abad ke-20 menggunakan bahasa pengantar bahasa Arab. Selain itu, sebelum abad ke-19 gerakan terjemahan untuk khotbah dan kajian tafsir berjalan tersendat, karena masih adanya kekhawatiran tumpang-tindih ideologi bersamaan dengan pertemuan dua bahasa dalam proses terjemahan (Zimmer, 2000: 32). Banyak pula tokoh berpengaruh yang tetap berkeyakinan bahwa syarat sah khotbah adalah dengan bahasa Arab. Dalam konteks Aceh, salah satu tokoh yang mewajibkan khotbah berbahasa Arab adalah Nuruddin al-Raniri (Abdullah, 1985: 60). Meskipun Tgk. Kuta Karang, ulama Aceh lainnya, pada akhir abad ke-19 berpendapat bahwa justru tidak sah salat Jumat di Aceh dengan menggunakan bahasa Arab, karena inti khotbah adalah menasihati (Alfian, 1999: 188).

Dengan demikian, abad ke-19 menjadi abad penting dalam perjalanan khotbah keagamaan berbahasa Arab di Nusantara. Pada abad ini, penggunaan bahasa Arab dalam khotbah tidak hanya untuk salat Jumat, tetapi juga untuk khotbah yang lain seperti khotbah jihad, mencapai puncaknya dan menjadi kecenderungan umum yang dianut saat itu. Berangkat dari temuan tersebut, kajian terhadap khotbah jihad berbahasa Arab di Aceh pada abad ke-19, menjadi penting untuk dilakukan. Hal ini didasarkan atas beberapa alasan. Pertama, sejauh ini naskah khotbah jihad pada abad ke-19 di Aceh belum pernah dikaji secara khusus baik secara filologis maupun nonfilologis, selain belum pernah diterbitkan. Kedua, bentuk dan isi khotbah jihad di Aceh abad ke-19 jelas memperlihatkan pengaruh khotbah dalam tradisi di Timur Tengah. Sampai saat ini belum ada studi yang memberikan perhatian terhadap hal ini. Padahal, hal ini penting untuk diungkap sebagai salah satu sarana untuk melihat bagaimana pemahaman terkait jihad berkembang. Ketiga, naskah khotbah jihad memiliki kekhasan dibandingkan dengan naskah khotbah-khotbah yang lain. Untuk mengungkap hal ini, pembahasan terhadap aspek kewacanaan yang melingkupi naskah penting dilakukan. Naskah khotbah jihad juga dapat menjadi sumber penting untuk mengungkap isu yang diperbincangkan dalam khotbah jihad di Aceh saat itu.

[1] Beberapa teori mengenai kedatangan Islam di Nusantara dapat dilihat dalam tulisan Azra (1994) dan Baried (1997).

[2] Dalam koleksi Perpustakaan Nasional, ada 1 naskah khotbah berbahasa Melayu dan sisanya berbahasa Arab.

[3]  Berdasarkan informasi pada katalog tersebut, 13 di antaranya berasal dari abad ke-19.

[4] Berdasarkan informasi pada katalog tersebut, 3 di antaranya menggunakan bahasa Arab, dan 2 dari naskah tersebut merujuk pada abad ke-19.

[5] Berdasarkan informasi pada katalog tersebut, semua naskah menggunakan bahasa Arab, dan 1 di antaranya merujuk pada abad ke-19.

[6] Semua naskah Ambon tersebut menggunakan bahasa Arab. Tidak ada informasi dalam Katalog Naskah Maluku yang dibuat oleh Islam (2010) ihwal waktu (baca: abad) dibuatnya naskah.

[7]  Salah satunya adalah Kumpulan Khutbah-khutbah Jum’at Syekh Abdul Wahab Rokan yang tersimpan di Pesantren Besilam Baru (Babussalam), Langkat Sumatera Utara (Batubara, 2006: 181). Di Jawa Timur, juga beredar buku kumpulan khotbah berbahasa Arab yang berjudul Al-Tuhfah al-Saniyyah fi Al-Khuthab Al-Wa‘zhiyyah yang ditulis Syekh Hasan Abdurrahim Ja‘far Al-Anshari, yang diberi gelar ahad a’immah al-syâfi‘iyyah (salah satu tokoh penting dalam mazhab syafi‘i). Buku ini merupakan tulisan yang telah diperbanyak dengan mesin cetak offset oleh Percetakan Muhammad bin Ahmad Nabhan wa Awladuh, tetapi tidak ada informasi kapan buku ini dicetak untuk pertama kalinya. Isi buku ini terdiri dari khotbah Jumat pada bulan hijriah, seperti Muharam, Safar, Rabiul Awal, Rabiuts Tsani, Jumadil Awal, Jumadits Tsani, Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulqa’dah, Zulhijjah; khotbah Idul Fitri, khotbah Idul Adha; dan khotbah nikah. Selain buku itu, di Pasuruan Jawa Timur juga terbit buku dengan tulisan tangan yang berisi kumpulan khotbah Jumat sepanjang tahun, khotbah Idul Fitri, khotbah Idul Adha, khotbah gerhana, khotabah istisqâ’, khotbah asmâ’ suwar furqânî (tentang isi surah-surah dalam Alquran), dan khotbah nikah. Buku ini ditulis oleh Abdurrahman bin Ismail bin Nabatah Al-Mashri, yang diterbitkan oleh Percetakan Al-Hurriyah Pasuruan, yang juga tidak ada informasi kapan buku ini pertama kali dicetak. Meskipun di bagian awal tertulis dicetak di Pasuruan, tetapi bagian akhir buku ini tercantum bahwa buku itu dicetak oleh Mathba’ Al-Muhammadi, yang terdapat di India. Penerbit ini, berdasarkan informasi dari situs al-mustafa.com, beroperasi di India pada akhir abad ke-19. Bila informasi ini benar, maka ini perlu mendapat penelusuran lebih lanjut untuk membuka informasi mengenai transmisi model dan isi khotbah di Nusantara.

Komentar

komentar

komentar

Berkomentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *