Kesalahan Umum Penerjemahan Arab-Indonesia

  •  
  •  
  •  
  •  

Setelah mengetahui perbedaan karakteristik antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia, penerjemah harus juga membekali diri dengan kesalahan umum yang sering ditemukan dalam penerjemahan Arab-Indonesia, agar dia tidak terjatuh dalam lubang yang tidak seharusnya.

Mu’min (tt: 18-26) menyebut beberapa kesalahan umum yang dilakukan oleh seorang penerjemah, terutama yang pemula. Meskipun ia mendasarkan kajiannya pada kasus penerjemahan Arab-Inggris, namun kesalahan itu juga ditemukan dalam kasus penerjemahan Arab-Indonesia.

Saya akan mengambil beberapa kesalahan yang relevan dalam kasus penerjemahan Arab-Indonesia. Contoh yang dikemukakan pada bagian ini merupakan kesalahan yang sering saya temui pada saat memberikan perkuliahan dan pelatihan penerjemahan Arab-Indonesia. Berikut adalah kesalahan umum yang kerap muncul:

Pertama, kesalahan yang berhubungan dengan kepenguasaan terhadap topik Tsu. Ini akan berakibat fatal pada pesan yang dialihkan ke dalam Tsa. Karena, bisa jadi pesan yang disampaikannya bukan pesan yang hendak disampaikan penulis Tsu. Oleh karenanya, penerjemah harus memahami topik Tsu yang hendak diterjemahkannya. Minimal, ia harus membaca tuntas dan cermat Tsu. Contoh:

التعصب للجنس وأثره في وضع الحديث

Pengaruh Fanatisme Golongan terhadap Pemalsuan Hadis

Penerjemah yang tidak menguasai topik Ulumul Hadis, akan sulit mendapatkan arti ‘pemalsuan hadis’ untuk frasa وضع الحديث, karena kata وضع lebih sering dikenali memiliki arti ‘peletakan’.

Kedua, kesalahan yang berhubungan dengan konotasi. Padahal, konotasi bisa memberikan kelengkapan informasi pada pesan yang sebetulnya hendak disampaikan oleh penulis Tsu. Konotasi ini bisa dipelajari dengan mengkaji aspek budaya pada Bsu atau bisa juga dibantu oleh ensiklopedia dan kamus yang memadai. Contoh konotasi dalam penerjemahan Arab-Indonesia:

من العجيب حفظ القرآن بدون معرفة معانيه

Klausa tersebut bisa berkonotasi positif dan bisa pula berkonotasi negatif. Klausa itu berkonotasi positif bila diterjemahkan: luar biasa ada orang yang bisa menghafal Alquran tanpa mengetahui maknanya. Sementara itu, klausa itu berkonotasi negatif bila diterjemahkan: aneh sekali ada orang yang menghafal Alquran tanpa mengetahui maknanya. Dua terjemahan tersebut dimungkinkan karena klausa itu menyembulkan dua konotasi sesuai dengan konteks yang melatarinya.

Ketiga, kesalahan yang berhubungan dengan persoalan idiom dalam Tsu. Penerjemah dituntut peka dalam mengenali idiom yang ada di Tsu, karena idiom tidak dimarkahi penanda linguistis. Idiom hanya bisa dikenali dengan rasa bahasa yang harus dimiliki oleh penerjemah. Kepekaan itulah yang harus mendorongnya untuk segera membuka kamus idiom di saat ia menemukan kejanggalan pada pemaknaan Tsu yang ada di hadapannya. Contoh idiom dalam bahasa Arab:

هو خفيف الرداء

Klausa itu bila diterjemahkan kata per kata, akan bermakna ‘dia ringan selendang’. Namun, jika diterjemahkan demikian, pada beberapa kasus akan sulit dipahami pesannya, karena ternyata خفيف الرداء merupakan idiom dalam bahasa Arab yang bermakna ‘tidak punya hutang’.

Keempat, kesalahan yang berhubungan dengan makna figuratif. Untuk menghindari hal ini, seorang penerjemah harus membekali diri dengan kepenguasaan terhadap stilistika dan pragmatik Tsu. Contoh makna figuratif dalam penerjemahan Arab-Indonesia:

طلع البدر علينا

Klausa itu bila diterjemahkan oleh penerjemah yang tidak memahami makna figuratif, akan menjadi ‘purnama muncul di hadapan kita’. Padahal, klausa itu mungkin akan lebih baik bila diterjemahkan dengan ‘sang purnama menghampiri kita’.

Kelima, kesalahan yang berhubungan dengan pemilihan diksi. Ini biasanya bisa diselesaikan dengan mencermati konteks dari kata. Untuk memaksilkan upaya ini, seorang penerjemah bisa mendiskusikannya dengan orang yang dianggap memiliki wawasan terkait konteks dimaksud. Kata هاتف tidak selalu otomatis bermakna ‘telepon’, karena bila kata itu ditemukan di teks klasik-tasawuf, maka akan bermakna ‘suara tanpa rupa’ yang sangat sufistik.

Keenam, kesalahan yang berhubungan dengan penerjemahan nama diri, peristiwa sejarah, dan kata-kata asing. Kesalahan ini bisa dihindari bila penerjemah mempunyai wawasan cukup luas, yang mutlak juga meniscayakannya untuk memiliki kamus, ensiklopedia, dan akses terhadap mesin pencari di internet, yang mungkin akan membantunya dalam memecahkan kesulitannya itu. Contoh kata بولندا yang sering diterjemahkan dengan ‘Belanda’, padahal kata itu harusnya diterjemahkan dengan ‘Polandia’. Atau, frasa يوم أحد yang diterjemahkan dengan ‘Hari Ahad’, padahal frasa itu pada beberapa kasus menginformasik peristiwa sejarah, yang harusnya diterjemahkan dengan ‘Perang Uhud’.

Ketujuh, kesalahan yang berhubungan dengan singkatan atau akronim. Terkait dengan Tsu yang berbahasa Arab, singkatan atau akronim bisa dikatakan sangat minim. Namun, justru di sinilah masalahnya.

Penerjemah yang berbahasa Indonesia, akan mendapati kesulitan untuk mengenali suatu konstruksi itu bisa disingkat atau tidak. Bila dipastikan termasuk konstruksi yang bisa disingkat, ia harus tahu bagaimana cara menyingkatnya yang lazim.

Contoh konstruksi الأمم المتحدة. Bila penerjemah tidak memiliki wawasan terkait konstruksi tersebut, bisa saja akan menerjemahkannya menjadi bangsa-bangsa yang bersatu atau umat-umat yang bersatu. Padahal, konstruksi itu bermakna ‘Persatuan Bangsa-bangsa’ yang biasa disingkat dengan PBB dalam bahasa Indonesia dan UN dalam bahasa Inggris. Atau, Kata صلعم yang bisa diterjemahkan dengan Saw.

Kedelapan, kesalahan yang berhubungan dengan kecerobohan. Penerjemah yang tidak mengecek kembali hasil terjemahannya, akan mendapati banyak kesalahan, baik makna maupun struktur gramatika, di kemudian hari. Minimal, ia harus membaca satu atau dua kali hasil terjemahan awalnya. Contoh kecerobohan dalam penerjemahan:

فتخيل لو حصل معك ذلك

Sering kali penerjemah abai dengan mengabaikan bahwa kata تخيل merupakan verba imperatif dan kata حصل yang tidak bisa langsung diterjemahkan dengan ‘berhasil’, karena klausa itu harusnya diterjemahkan: karenanya, bayangkan jika itu terjadi padamu.

Kesembilan, kesalahan yang berhubungan dengan kekakuan dalam memandang Tsu. Penerjemah yang baik akan berusaha menangkap pesan yang tersimpan di balik Tsu, tanpa harus terikat oleh struktur teks sumber. Kekakuan dalam memandang Tsu akan hilang dengan sendirinya bila yang bersangkutan mau terus berlatih dan berdiskusi dengan penerjemah yang sudah ahli. Contoh kekakuan dalam memandang Tsu:

إن وجود ولي الأمر يترتب عليه إقامة الحكم الشرعي

Klausa itu bila diterjemahkan secara kaku akan menghasilkan terjemahan seperti berikut: sesungguhnya adanya pemerintah menjadi wajib padanya penegakan hukum syar’i. Padahal, klausa itu bisa diterjemahkan menjadi: keberadaan pemerintah mengharuskan ditegakkannya hukum agama.

Kesepuluh, kesalahan yang berhubungan dengan kata tugas, konjungsi, dan partikel. Sering kali penerjemah hanya menerjemahkan harf sesuai dengan makna yang dikenali secara umum, padahal makna harf lebih sering bergantung pada konteks. Contoh terjemah harf  على yang biasanya diterjemahkan dengan ‘di atas’ pada على حين غفلة yang harus diterjemahkan ‘pada saat lalai’.

 Sumber: Jembatan Kata karya Dr. Moch. Syarif Hidayatullah (Grasindo, 2017)

Komentar

komentar

komentar

Berkomentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *