Kerja Filologis Partini Sardjono-Pradotokusumo terhadap Kakawin Gajah Mada

  •  
  •  
  •  
  •  

Pengantar

Kakawin Gajah Mada (selanjutnya disingkat KGM) merupakan karya sastra kakawin abad ke-20, yang ditulis oleh Ida Cokorda Ngurah (h. 53). Kakawin berasal dari kata kawi, yang mendapat awalan ka- dan akhiran –(a)n, yang berarti ‘hasil karya penyair atau syair. Kakawin sendiri merupakan salah satu jenis sastra yang tertua berbentuk puisi dalam khazanah kesusastraan Jawa (kuna). Pokok isi kakawin sendiri ada berbagai macam. Sebagian besar mengambil pokok isi dan tokoh-tokoh dari epik India, terutama Mahabarata. Tulisan ini akan mengulas kerja filologis yang dilakukan oleh Sardjono-Pradotokusuwo terhadap KGM, yang dikajinya untuk meraih gelar doktor dalam Ilmu Sastra pada Universitas Indonesia.

Kakawin dan Ilmu Sejarah

Hasil karya sastra dalam bentuk kakawin sendiri yang sampai sekarang dianggap tertua adalah Ramayana (abad ke-9); lalu Arjunawiwaha (abad ke-11); Bharatayudha, Hariwangsa, Ghatotkacasraya (abad ke-12); Smaradahana, Sumanasantaka, Bhomantaka (abad ke-13; Nagarakrtagama, Arjunawijaya, Sutasoma (abad ke-14); Siwaratrikalpa, Kunjarakarna, Dharmakathana (abad ke-15); Dewatmaka, Wiratawijaya, Indrawijaya (abad ke-19).

Menurut Sardjono-Pradotokusuwo, kakawin yang ditulis di Bali (termasuk yang di Jawa) itu selama kurun sembilan abad (abad ke-9 hingga abad ke-19), tidak ada satu pun yang diketahui mempunyai pokok isi tentang dan protagonis seorang tokoh sejarah, baik kakawin yang merupakan epik wiracarita maupun epik lainnya (h. 7). Meskipun ada perbedaan pendapat terkait dengan ini. Berg berpendapat bahwa kakawin Arjunawiwaha menceritakan perjalanan hidup dan perkawinan raja Airlangga. Menurut Sardjono-Pradotokusuwo, apa pun pendapat Berg, tetap saja penulis kakawin selama kurun waktu itu tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa protagonisnya seorang tokoh sejarah.  Inilah yang membedakan dengan KGM, yang memberi kesan karya ini mengungkapkan data sejarah tentang tokoh ini. Namun, apabila diteliti lebih jauh akan jelas bahwa penyair KGM ternyata tidak memberikan data secara objektif yang berdasar atas fakta dengan memenuhi syara-syarat ilmiah. Penyair KGM tidak menyebut biodata Gajah Mada secara objektif, misalnya tentang kapan lahir, berapa usia ketika meninggal, fsn keawamannya dalam urutan suksesi secara kronologis dari raja-raja Majapahit. Penyair tampaknya merujuk pada cerita tradisional. Tampaknya, meskipun mengambil pokok isi riwayat hidup Gajah Mada, penyair KGM tidak bermaksud menulis suatu biografi sebagai cabang dari ilmu sejarah. Atas fakta tersebut, Sardjono-Pradotokusuwo mengungkap KGM sebagai karya sastra, bukan karya sejarah. Gajah Mada didekati bukan sebagai bagian dari tokoh sejarah, tetapi sebagai tokoh dalam karya sastra dan mitosnya untuk mengungkap citra citra Gajah Mada hidup dan bertempat di hati penyairnya.

Inventarisasi Manuskrip yang Diteliti

Sardjono-Pradotokusuwo menginventarisasi manuskrip KGM sebagai berikut:

  1. Naskah dari Ketut Gunarsa, yang berupa tiga buah salinan naskah: (a) salinan dengan huruf latin yang ditulis tangan; (b) salinan dengan huruf latin yang diketik; (c) salinan dengan huruf Bali yang ditulis tangan.
  2. Naskah KGM, Lontar 315, Kropak 136, yang merupakan naskah sumber penyalinan ketiga naskah salinan di atas. Naskah KGM ini koleksi Lembaga Pelontaran Fakultas Sastra Universitas Udayana (yang oleh Sardjono-Pradotokusuwo disingkat Ud.).
  3. Naskah Ubud, milik Cokorda Agung Suyasa (yang oleh Sardjono-Pradotokusuwo disingkat Ub.).

Deskripsi Manuskrip

Semua manuskrip yang diteliti dan tersedia telah dideskripsikan kondisi fisik dan isinya oleh Sardjono-Pradotokusuwo, termasuk kolofon, perbedaan ejaan, kesalahan, kekurangan, dan kehilangan bagian masing-masing naskah.

Ringkasan

Sardjono-Pradotokusuwo membuat ringkasan KGM di bagian lampiran disertasinya, yang diberi subjudul Garis-garis Besar Kakawin Gajah Mada. Ringkasan tersebut tampaknya menggabungkan semua alur yang direkam oleh semua manuskrip tersebut, setelah sebelum diulas dalam bagian analisis dengan pendekatan strukturalisme dan hubungan antarteks dengan hipogram-hipogram KGM, seperti Babad Gajah Mada, cerita rakyat tentang Gajah Mada, dan lainnya.

Kritik Teks

Sardjono-Pradotokusuwo telah melakukan kritik teks dengan memberi penjelasan dan pertanggungjawaban aspek kebahasaan. Perbandingan antarnaskah tampaknya tidak dilakukan oleh Sardjono-Pradotokusuwo, karena menurutnya tidak ada perbedaan yang mendasar antarnaskah yang diteliti.

Transliterasi

Sardjono-Pradotokusuwo juga telah membuat transliterasi. Hanya saja dia tidak menyertakan kopi naskah dari manuskrip yang ditelitinya. Menurut hemat saya, meskipun bukan suatu keharusan, keberadaan kopi naskah yang semestinya dilampirkan dalam disertasi ini pasti akan sangat membantu pembaca dan peneliti untuk melihat KGM dalam versi aslinya.

Varian dan Versi

Sardjono-Pradotokusuwo menjelaskan bahwa manuskrip yang ditelitinya hanya terdapat varian, tidak ada versi. Dalam manuskrip KGM, hanya satu perbedaan yang ditemukan pada KGM, yaitu penulisan sira pada 33.3d naskah Ub., sementara naskah Ud. dituliskan siran (h. 252).

Edisi Teks

Dalam membuat edisi teks, Sardjono-Pradotokusuwo memanfaatkan naskah Ub. Dan Ud. sebagai dasar edisi. Dalam membuat edisi teks itu, ia menggunakan edisi kritis, karena juga mengoreksi kesalahan yang ditemukannya.

Terjemahan

Sardjono-Pradotokusuwo tidak menerjemahkan KGM dengan terjemahan harfiah. Ia berusaha mendekatkan KGM kepada pembaca bahasa Indonesia modern, dengan harapan agar lebih mudah dipahami.

Daftar Nama dan Kosakata

Sardjono-Pradotokusuwo memuat daftar nama dan tempat dalam KGM, sementara kosakata sudah dijelaskannya dalam catatan akhir pada bab VII. Hanya saja, daftar nama diri dan tempat itu tidak diberi penjelasan sama sekali, hanya acuan halamannya saja. Model pembuatan daftar nama dan tempatnya lebih mirip sebagai indeks.

Kesimpulan

Secara umum, dapat dikatakan bahwa Sardjono-Pradotokusuwo telah berhasil melakukan kerja filologis atas KGM. Meskipun, ada beberapa titik kelemahan yang bisa ditemui, seperti pada daftar nama dan tempat, yang tidak ada penjelasannya, aparat kritik yang diletakkan di catatan akhir, cukup menyulitkan.

Komentar

komentar

komentar

Berkomentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *