Kerja Filologis A. Teeuw dkk. terhadap Siwaratrikalpa

  •  
  •  
  •  
  •  

Pengantar

Siwaratrikalpa (selanjutnya disingkat SWK) merupakan karya sastra kakawin abad ke-25, yang ditulis oleh Mpu Tanakun. Kakawin Kakawin sendiri merupakan salah satu jenis sastra yang tertua berbentuk puisi dalam khazanah kesusastraan Jawa (kuna) (h. 4). Ia mendapat pengaruh dari puisi India dan isinya merupakan pinjaman dari literatur berbahasa Sansekerta. Pokok isi SWK sendiri berkaitan dengan ajaran agama. Tulisan ini akan mengulas kerja filologis yang dilakukan oleh Teeuw dkk. terhadap SWK.

Kakawin dan Ajaran Agama

Selain mengungkap aspek puitis dan matra yang terdapat pada SWK, termasuk juga bahasa teks dan pengaruh India yang tampak dalam puisi dan matra SKW, Teeuw dkk. memberikan catatan terkait ajaran agama. SWK menceritakan tentang surga sebagai tempat Siwa dan neraka sebagai kawah sapi berkepala. Semua itu tergantung akan apa yang sudah diperbuat oleh manusia. Kalau baik, mendapat surga. Kalau jelek, akan mendapat neraka. Untuk menyucikan jiwa dan menolak godaan setan, maka manusia perlu melakukan tapabrata, yang merupakan cara klasik Brahmana. Meskipun demikian, isu reinkarnasi tidak ditemukan pada SWK (h. 52). Ini sesuatu yang aneh dalam ajaran agama yang dianut penulis SWK.

Selain itu, muncul permasalahan lainnya seputar mengapa Siwa yang dijadikan sebagai pemimpin para dewa. Selain Yama, hanya Indra, Girindraduhita, Kumara, dan Ganesa, yang disebutkan sesuai tugas-tugasnya. Dewa-dewa yang lain disebutkan secara umum cuma sekali. Buddha dan Wisnu pun tidak disebut-sebut. Tampaknya penulis SWK memperlihatkan dan mengunggulkan pemujaan terhadap Siwa.

Hal lain juga memunculkan pertanyaan terkait pada periode ini di Jawa ada kepercayaan soal tubuh dan jiwa tidak identik dan bersama. Setelah mati dan tubuh dikremasi, jiwa masih ada. Lalu, apa yang terjadi jika seseorang mati dan jiwanya tertinggal di dalam tubuhnya? Jawabannya, jiwanya berubah dari bentuk hewaninya menuju surga. Penulis SWK menggambarkannya seperti kasun Calon Arang dan Mpu Bharadah.

Malam Siwa (Siwaratri)

Menurut Sancaya (http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/1/17/o2.htm), malam Siwa (Siwaratri) merupakan salah satu hari yang sangat penting bagi umat Hindu yang diperingati secara khusus dengan cara melakukan brata Siwaratri yang meliputi jagra (melek) selama 36 jam, mona (tidak berkata-kata), dan upawasa (tidak makan dan minum) selama 24 jam terus-menerus, persis seperti yang (tidak sengaja) dilakukan oleh Lubdhaka dalam kakawin Siwaratrikalpa (karya Mpo Tanakung). Dengan melakukan brata Siwaratri, sebagian umat Hindu meyakini bahwa ”dosa-dosa” yang dilakukannya dapat dihapuskan. Namun sebagian lagi memberikan penafsiran berbeda, karena konon dosa (karma) tidak pernah dapat dihapus.

Ungkapan tentang Lubdhaka sebagai orang yang jahat dinyatakan dengan sangat jelas di dalam teks kakawin Siwaratrikalpa. Memang tidak ditemukan adanya penggunaan kata dosa, selain kata dusta, duskrta (kaduskrtang), ahala, kalusa, ghataka. Namun apakah perbuatan jahat tidak dapat dikatakan suatu dosa? Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa Lubdhaka secara kebetulan melaksanakan brata Siwaratri saat berburu dan tidak menemukan buruannya. Meskipun brata Siwaratri itu dilakukannya dengan tidak sengaja, atau secara kebetulan, mengapa semua peristiwa penting yang menjadi alasan Siwa memberi anugerah pada Lubdhaka terjadi secara kebetulan? Apa pun, semua itu tidak mengurangi keinginan Siwa untuk memberikan anugerah kepada Lubdhaka, meskipun dalam sepanjang hidupnya Lubdhaka dipenuhi oleh perbuatan jahat, membunuh binatang tanpa dosa, dan tidak pernah melaksanakan brata. Rupanya malam Siwa sungguh-sungguh merupakan malam yang istimewa, dan tidak ada seorang pun yang memperoleh keberuntungan, suatu anugerah yang demikian besar selain Lubdhaka.

Anugerah yang diberikan Siwa kepada Lubdhaka bukanlah tanpa alasan. Selain sebagai perwujudan penguasa alam semesta, yang memiliki kekuasaan yang besar, Siwa tentunya bisa membebaskan seseorang yang sangat jahat sekalipun. Tetapi alasan pembebasan yang diberikan kepada Lubdhaka memang sangat istimewa, yaitu berkenaan dengan suatu ketentuan yang ditetapkan oleh Siwa sendiri tentang brata Siwaratri. Karena begitu lamanya ajaran itu disampaikan, sehingga banyak yang lupa, termasuk Siwa sendiri. Namun secara kebetulan Lubdhaka-lah yang secara tidak sengaja melakukan brata Siwaratri yang sangat utama itu. Lagi pula hanya si Lubdhaka-lah yang sudah melaksanakan brata Siwaratri itu untuk pertama kalinya. Oleh sebab itu, apa pun bentuk kejahatan yang dilakukannya, sudah dilebur oleh pelaksanaan brata Siwaratri itu sendiri. Sikap Siwa sebagaimana tergambar dalam SWK bukannya tidak ada yang mempersoalkan. Yama beserta para Kingkara memprotes kebijakan Siwa. Bahkan, mereka mengancam untuk mengundurkan diri sebagai pejabat di Nerakaloka (Yamapada). Pertanyaannya, apakah ini bagian dari ajaran agama atau hanya persoalan estetik semata?

Inventarisasi Manuskrip yang Diteliti

Teeuw dkk. menginventarisasi manuskrip SWK sebagai berikut:

  1. Naskah A adalah manuskrip lontar dengan komentar bahasa Bali, dengan kondisi naskah lengkap dan baik.
  2. Naskah B juga berbentuk manuskrip lontar, yang berada dalam satu bundel dengan Kondisi naskah lengkap dan baik.
  3. Naskah C juga berbentuk manuskrip lontar.
  4. Naskah D berbentuk manuskrip dengan bahan kertas, yang banyak bagian kosong.
  5. Naskah F hanya berisi 7 halaman dan sampai pupuh 3, 9c.
  6. Naskah G hanya tersedia pada catatan Zoetmulder.

Manuskrip-manuskrip tersebut tersimpan di Perpustakaan Universitas Leinden dan PNRI.

Deskripsi Manuskrip

Tidak banyak informasi terkait deskripsi kondisi fisik dan isi SWK dikemukakan oleh Teeuw dkk. dalam buku ini. Namun, Teeuw dkk. cukup banyak membicarakan penulis SWK, yaitu Mpu Tanakun, yang dibahasnya pada halam 60—66.

Ringkasan

Teeuw dkk. telah membuat ringkasan SWK pada halaman 7—12. Ringkasan tersebut tampaknya menggabungkan semua isi yang direkam oleh semua manuskrip tersebut.

Kritik Teks

Teeuw dkk. melakukan kritik teks dengan melakukan perbandingan teks yang dimasukkan dalam bagian apparatus criticus, yang diletakkan di catatan kaki tiap halaman. A. Teeuw dkk. menampilkan persamaan dan perbedaan dari masing-masing manuskrip, sehingga diketahui kekerabatan antarnaskah.

Transliterasi

Teeuw dkk. juga telah membuat transliterasi. Hanya saja dia tidak menyertakan kopi naskah dari manuskrip yang ditelitinya. Menurut hemat saya, meskipun bukan suatu keharusan, keberadaan kopi naskah yang semestinya dilampirkan dalam buku ini pasti akan sangat membantu pembaca dan peneliti untuk melihat SWK dalam versi aslinya.

Varian dan Versi

Teeuw dkk. menjelaskan bahwa manuskrip yang ditelitinya hanya terdapat varian, tidak ada versi. Dalam manuskrip SWK, kalaupun ada perbedaan, tidak terlalu besar, sehingga dapat dikatakan tidak ada versi dalam SWK.

Edisi Teks

Dalam membuat edisi teks, Teeuw dkk. memanfaatkan naskah A, B, C, D (h. 58). Naskah F dan G tidak dipergunakan karena banyak kekosongan (h. 59). Dengan demikian, dalam membuat edisi teks, Teeuw dkk. menggunakan metode gabungan.

Terjemahan

Teeuw dkk. tidak menerjemahkan SWK dengan terjemahan harfiah. Ia berusaha mendekatkan SWK kepada pembaca bahasa Inggris, dengan menambahkan tanda baca, kapitalisasi huruf. Posisi terjemahan yang diletakkan berdampingan dengan transliterasi memudahkan penikmat SWK untuk membandingkan hasil terjemahan dan transliterasi dari SWK. Hasil terjemahannya pun dipertanggungjawabkan dengan memberikan beberapa catatan terhadap terjemahan yang ditampilkan (h. 146—157).

Daftar Nama dan Kosakata

Teeuw dkk. memuat daftar nama dan kosakata dalam SWK. Daftar nama diri dan kosakata yang dibuat telah memadai, karena diberi penjelasan siapa nama yang dimaksud dan arti dari kosakata yang disebutkan.

Kesimpulan

Setelah mencermati bagian per bagian kerja filologis yang dilakukan Teeuw dkk. terhadap SWK, saya sulit menemukan kelemahan dari kerja filologis tersebut. Meskipun demikian, satu hal yang cukup mengganggu saya adalah soal tidak memadainya deskripsi terkait dengan manuskrip-manuskrip yang diteliti, selain tidak dilampirkannya kopian salah satu naskah SWK.

 

 

Komentar

komentar

komentar

Berkomentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *