Istanbul (1)

  •  
  •  
  •  
  •  

Hari ini Istanbul dingin sekali. Mungkin sekitar 7 derajat celsius. Dinginnya melebihi dua hari kemarin. Justru karena cuacanya yang ekstrim itu, kota ini malah tambah cantik. Dari tempat duduk yang disediakan di seberang Dermaga Eminonu, terlihat sekumpulan burung camar di Selat Bosphorus menari-nari.

Camar-camar putih itu mengelilingi kapal-kapal feri yang lalu-lalang di selat itu mencari rezeki. Penumpang feri biasanya membalas kebaikan camar-camar itu dengan menyedekahkan makanan yang dilemparkan ke arah kumpulan burung indah itu.

Sekarang masih jam 3 sore. Tapi dinginnya terasa 3 kali lipat daripada cuaca malam di Jakarta saat musim hujan sekalipun. Ini hari ketiga Nizam meninggalkan sejenak hiruk-pikuk kota yang menemaninya tumbuh dewasa. Dan, ini hari terakhirnya di Istanbul.

Tadi siang dia sempatkan naik kapal wisata yang membawanya menikmati indahnya Teluk Golden Horn itu. Di bagian dek terbuka, wajahnya seperti ditampar-tampar lembut angin laut yang lebih dingin daripada saat ia membuka kulkas di rumahnya.

Setelah naik kapal feri Bosphorus Tour, ia duduk-duduk di dermaga itu. Melihat orang-orang yang mancing ikan di pinggiran selat, membawanya ke masa kecil. Dulu setiap lebaran atau liburan ia sering diajak ayahnya ke rumah kakeknya yang tak jauh dari pelabuhan.

Pancaran rona bahagia sang pemancing saat ikan terperangkap dalam kail pancingnya, persis yang ia lihat waktu kecil dulu. Meski ia tak terlalu suka memancing, tapi ia suka melihat orang yang memancing. Baginya, memancing adalah gambaran nyata pencarian rezeki dalam hidup.

Udara semakin dingin. Nizam benar-benar menggigil, padahal sudah memakai 3 lapis jaket yang dibawanya dari Indonesia. Hari itu memang tidak ada acara. Panitia memang menghadiahkan hari itu agar Nizam bisa merasakan langit dan menghirup udara kota seribu menara.

Ia ditemani Muflih, mahasiswa asal Indonesia yang sedang belajar di Universitas Marmara. Muflih ini yang setia mendampinginya. Muflih juga yang menjemput Nizam di bandara hingga menemaninya berkeliling kota menikmati apa saja yang ada di hadapan matanya.

Di kota dua benua ini, Nizam memenuhi undangan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki. Bukunya yang selalu laris dan kerap menghiasi layar kaca, mengantarnya ke mana-mana. Ia bahkan hampir tiap bulan ke luar negeri. Nizam sejauh ini cukup menikmati, meski terkadang diserang rasa jenuh juga.

Menjejakkan kaki di Istanbul memang tak pernah masuk dalam mimpinya, meskipun ternyata kota ini lebih indah dari yang dibayangkannya. Waktu kuliah dulu ia justru lebih sering memimpikan bisa ke Inggris.

Sebagai penggila bola, keinginan merasakan langsung atmosfer pertandingan di salah satu stadion klub bola kesayangan, bisa dikatakan levelnya sudah seperti merindukan surga. Tapi Tuhan saat ini menghidangkan Istanbul. Ia mensyukuri itu sebagai anugerah dan berkah hidupnya.

Meski matanya cukup bahagia di Istanbul, tetapi hatinya terbang melayang-layang. Jiwanya seperti memanggil-manggil untuk segera pulang menemui istrinya yang ditinggalkannya saat prahara menerpa biduknya. Memorinya penuh dengan banyak peristiwa beberapa hari sebelumnya, terutama saat kejadian selepas salat magrib empat hari lalu, persis 1 malam menjelang keberangkatannya ke Istanbul.

Di waktu magrib itulah, mungkin surah Al-Fatihah di rakaat kedua belum selesai dibacanya. Nizam yang mengimami salat, mendengar sesenggukan Sabria yang menjadi makmumnya. Nizam kehilangan kekhusyukan salat seketika itu juga. Konsentrasinya buyar dan tertuju pada apa yang sedang berkecamuk di benak istrinya.

Selama 6 tahun menikah, tidak pernah ia mendapati istrinya seperti itu, bahkan sehebat apa pun pertengkaran antara mereka. Nizam lalu mempercepat dan mempersingkat bacaan-bacaan salatnya. Ia sudah kehilangan kekhusyukan. Ingin sekali dibatalkan salat magribnya. Tapi, itu ia urungkan. Ia memilih untuk melanjutkan salatnya hingga usai.

~ BERSAMBUNG ~

Komentar

komentar

komentar

Berkomentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *