Aksara Bahasa Arab

  •  
  •  
  •  
  •  

Aksara (ortografi) adalah sistem tulisan yang dibuat untuk digu-nakan secara umum dan berlaku di dalam masyarakat suatu bahasa (Chaer, 1994: 110). Aksara dibuat untuk dapat menggam-barkan bunyi yang sebenarnya dari suatu bahasa. Dalam sejarah kehi-dupan manusia, aksara telah melewati beberapa fase perubahan, sehing-ga sampai pada sistem aksara seperti yang kita gunakan saat ini.

Aksara adalah keseluruhan sistem tulisan. Aksara mencakup isti-lah umum untuk graf dan grafem. Graf adalah satuan terkecil dalam ak-sara yang belum ditentukan statusnya, sedangkan grafem adalah satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem. Urutan huruf dalam suatu sistem aksara dinamakan abjad atau alfabet. Misalnya dalam ak-sara Arab, abjad itu dimulai dari alif sampai ya’.

Dalam bahasa Arab, kita mengenal sistem tulisan yang disebut aksara Arab. Aksara Arab mula-mula dipakai untuk menuliskan bahasa Arab, diturunkan dari aksara Aramea. Peninggalan tertua beraksara Arab berasal dari tahun 512 M. Dalam penyebarannya juga dipakai un-tuk menuliskan bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Urdu, bahasa Mela-yu, bahasa Jawa, dituliskan dari kanan ke kiri (Kridalaksana, 2001: 5). Aksara ini dibuat untuk digunakan dalam merekam dan menuliskan bunyi-bunyi bahasa Arab yang diucapkan oleh penuturnya.

Selain itu, aksara Arab seperti aksara-aksara bahasa lain dituntut untuk dapat menuliskan ujaran-ujaran bahasa yang sebenarnya. Aksara Arab yang kita kenal saat ini dan kita gunakan dalam berbagai keper-luan, juga telah melewati beberapa fase perubahan. Bentuk tulisan yang paling lama berasal dari sistem tulisan al-masnad al-yamani dalam bentuk tiang-tiang. Bentuk kedua adalah bentuk al-nibthi salah satu macam tu-lisan al-arami seperti tulisan nuqusy (gambar-gambar) pada kuburan. Ke-mudian sampai pada tulisan Arab yang diambil dari al-nibthi, dengan beberapa perubahan. Perubahan itu terus terjadi sampai pada sistem tulisan seperti sekarang dan bukan dalam bentuk nuqusy (Wafi, 1947: 251—254).

Menurut Holes (1995: 73), aksara Arab sangat konsisten dan sa-ngat dekat dengan bunyi bahasanya, jika dibandingkan dengan bahasa lain. Hal itu dapat kita lihat bahwa setiap huruf (grafem) dalam aksara Arab dapat menggambarkan bunyi (fonem) berikut dan alofon-alofon-nya (varian). Misalnya, fonem /ba/, /ta/, dan /tsa/ dirumuskan dengan huruf ب, ت, ث, meskipun setiap fonem memiliki beberapa alofon-alofon. Fonem-fonem berikut alofon-alofonnya yang berada dalam bahasa Arab cukup dituliskan dengan sebuah huruf. Hasilnya kita mengenal huruf-huruf aksara Arab yang jumlahnya sebanyak 28 huruf (Bisyr, tt: 492). Huruf-huruf ini tersusun dalam suatu urutan abjad yang dikenal dengan nama al-huruf al-hija’iyyah.

Namun, dengan segala konsistensi dan ketelitiannya, aksara Arab masih memiliki kelemahan dalam merekam fonem dan alofon-alofonnya seperti aksara bahasa lainnya. Aksara Arab masih belum dapat meng-gambarkan bunyi-bunyi ujaran bahasa secara akurat. Hal ini dapat kita pa-hami bahwa bunyi-bunyi ujaran bahasa berkembang pesat seiring de-ngan perkembangan zaman, sementara perkembangan aksara selalu lam-bat untuk mengikuti kemajuan itu.

Kemudian, menulis adalah bentuk turunan pada penggunaan ba-hasa. Jadi, cara menulis itu seharusnya menyesuaikan diri dengan ben-tuk-bentuk bunyi dan perubahan di dalamnya. Tulisan merupakan tu-runan dari bahasa lisan dalam arti bahwa sistem aksara mengikuti per-kembangan bunyi dan tidak berjalan dengan ketentuan sendiri. Menu-rut Kridalaksana (2001: 79), “Kesepadanan antara huruf dan bunyi se-ring arbitrer.”

Kelemahan aksara bahasa Arab dapat kita temukan pada bebera-pa tempat, seperti sistem penulisan hamzah yang berbeda-beda seiring perbedaan tempatnya, baik di depan, tengah, dan akhir sebuah kata. Perbedaan juga terletak pada sistem tulis dan karakteristik antara hamzah al-washI dan hamzah al-qath’. Hamzah al-washl dituliskan dengan huruf alif, diucapkan ketika berada di awal kalimat, seperti اسم dan tidak diucapkan ketika didahului oleh kata lain, seperti ما اسم هذا الرجل. Hamzah al-qath’ ditulis dengan hamzah di atas alif, diucapkan baik di awal kalimat, ataupun didahului oleh kata lain, dan tandanya tetap harus dituliskan, seperti أنا أسعد, قال أسعد. Dalam aksara Arab terdapat vokal-vokal yang terucap, tetapi tidak direalisasikan melalui suatu simbol dalam penu-lisan. Contohnya vokal panjang (al-madd) pada kata-kata الله,هذه , هذا. Sebaliknya ada simbol yang tertulis, namun vokalnya tersem-bunyi, seperti vokal alif pada kataرموا  dan vokal waw pada kata أولئك (Bisyr, 599-601). Selain itu, aksara Arab memiliki kelemahan pada penu-lisan tekanan panjang dengan menggunakan alif, jika kita bandingkan dengan tekanan panjang pada kata kata رمى.

Bahasa Arab sebagai suatu bahasa memiliki banyak keutamaan dan kelebihan, sehingga menarik untuk dipelajari. Bahasa ini tidak ha-nya dipelajari oleh bangsa Arab saja, tetapi banyak bangsa-bangsa lain yang mempelajari bahasa ini. Keutamaan-keutamaan yang dimiliki oleh bahasa Arab terletak pada beberapa aspek berikut. Pertama, identitas-nya seba-gai bahasa Alquran, sehingga banyak digunakan oleh pemeluk agama Islam. Kedua, bahasa Arab penting untuk dipelajari karena bang-sa Arab (Islam) itu sendiri memiliki sejarah peradaban yang sangat mengagumkan di masa lampau.

Selain itu, bahasa Arab merupakan bahasa internasional yang te-lah diakui dan digunakan sebagai bahasa resmi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Pengajaran bahasa Arab baik sebagai bahasa ibu maupun bahasa asing bertujuan agar seseorang dapat menguasai bahasa Arab dan semua aspek-aspeknya, dari tataran fonologi, morfologi sampai de-ngan tataran sintaksis. Semua aspek tersebut dapat direpresentasikan dalam bentuk keterampilan-keterampilan berbahasa, dari mulai mende-ngar, melafalkan, berbicara, dan menulis.

Sumber: Moch. Syarif Hidayatullah, Cakrawala Linguistik Arab, Tangerang: al-Kitabah, 2012.

Komentar

komentar

komentar

Berkomentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *