Seruan Jihad Ditemukan dalam Naskah Khutbah di Aceh Abad ke-19

Corak Khutbah berisi seruan jihad di Nusantara bisa ditemukan dalam naskah-naskah khutbah di Aceh pada abad ke-19. Ini dijelaskan oleh Dr. Moch Syarif Hidayatullah dalam kajian Islam Nusantara Center (INC), Sabtu (19/08). Dosen UIN Jakarta ini memang khusus melakukan penelitian terhadap kesultanan Aceh khususnya abad 19 dalam menghadapi penjajahan negara asing dan hubungannya dengan kesultanan

Ini Cara Belajar Bahasa Arab via Media Sosial

Pengajaran Bahasa Arab bagi sebagian guru menjadi tantangan tersendiri. Namun, sejak munculnya Media Sosial atau akrab disebut Medsos, kesulitan tersebut tak perlu lagi dirisaukan. Hal tersebut dikatakan Mochammad Syarif Hidayatullah saat menjadi narasumber pada lokakarya “Pengajaran Bahasa Arab Kontekstual” yang dihelat di ruang sidang Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (3/6).

Dari Khutbah Jumat, Rakyat Aceh Jihad Lawan Penjajah

Pada abad ke-19, seruan berjihad bagi masyarakat Aceh untuk melawan Belanda terdokumentasikan di dalam naskah-naskah khutbah. Hal itu tidak mengherankan mengingat abad ke-19 adalah abad terpenting bagi perjuangan masyarakat Nusantara dalam melawan kolonialisasi Belanda. Oleh karena itu, di Aceh jihad dikumandangkan di tempat-tempat pertemuan, tempat-tempat ibadah, dan tempat-tempat lainnya. Demikian disampaikan Moch Syarif Hidayatullah saat

Kisah Hubungan Aceh-Turki dalam Khutbah Jihad

Indonesia mempunyai sejarah yang besar, termasuk tentang hubungan antara Turki dan Aceh pada zaman dulu. Moch. Syarif Hidayatullah menyampaikan hal ini dalam forum diskusi kajian Turats Ulama Nusantara yang diadakan Islam Nusantara Center di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/8). Dalam pemaparannya, dosen UIN Syarif Hidayatullah ini mengatakan bahwa hubungan itu dilihat dari naskah khutbah

Sukses Menjadi Akademisi, Penulis Hingga Pengusaha

DatDut.Com – Didikan hidup sederhana dan disiplin saat mondok dulu benar-benar dirasakan oleh Syarif Hidayatullah. Dengan jerih payahnya, saat ini Syarif mampu menekuni berbagai prosesi mulai menjadi dosen, penulis buku sampai pengusaha baju dan menjadi pengasuh pesantren yang didirikannya di Jakarta. Tidak mudah untuk menemui Moch. Syarif Hidayatullah saat ini. Maklum aktivitas pria kelahiran Pasuruan

Kemenag Buka Konsultasi Publik Online Dalam Penyempurnaan Terjemahan Al Quran

Jakarta (Kemenag) — Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran (LPMQ) menyelanggarakan Seminar Hasil Penelitian Penggunaan Terjemah Al Quran Kementerian Agama di Masyarakat. Pgs Kepala LPMQ Muchlis M Hanafi mengatakan, dalam rangka penyempurnaan terjemahan, pihaknya akan membuka konsultasi publik secara online. “Konsultasi secara online melalui portal yang akan kami sediakan dan dalam waktu dekat kami akan launching,”

Terjemahan Puitis Surah al-Nas

(1) Katakanlah Aku berlindung di balik Zat Pengatur manusia  (2)  Aku bersembunyi di balik kuasa Maharaja manusia  (3)  Aku meminta pertolongan pada Sang Sembahan manusia (4) Dari kejahatan dan godaan waswas  yang terus mengganggu tanpa kenal waktu  (5)  Yang membisikkan kemungkaran dan angkara murka ke dalam hati manusia (6)  Yang ditiupkan oleh para penggoda si durjana

Yuk, Bersepeda ke Masjid

Azan bergema subuh itu. Kesunyian suatu perumahan kelas menengah di sudut Kota Depok, perlahan pecah. Satu per satu penghuni komplek ke luar rumah mengeluarkan sepeda. Bukan untuk pergi bekerja, tapi untuk beribadah. Warga perumahan itu setahun ini satu demi satu meninggalkan kendaraan bermotornya. Mengayuh sepeda untuk pergi ke masjid, kini sudah jadi keseharian mereka. Di

Terjemahan Puitis Surah al-Fatihah

(1) Kami berikrar dengan Bismillah Asma Tuhan Yang amat mengasihi dan begitu menyayangi (2) Karena segala yang terpuji menjadi milik-Nya Dialah yang Maha Mengatur dan Menata Alam semesta jagat raya seisinya (3) Yang amat mengasihi dan begitu menyayangi (4) Raja keagungan di Hari Keputusan (5) Maka kami tak berani sedikit pun Menghamba dan meminta bantuan

Kitab Hadis Shahîh yang Pertama Kali Ditulis

Kitab Hadis yang pertama kali secara khusus membahas mengenai Hadis-hadis dalam kategori shahîh adalah kitab Shahîh al-Buk­hârî. Kerja al-Bukhârî itu kemudian diikuti oleh Muslim dalam karyanya, Shahîh Muslim. Dua karya inilah yang diyakini sebagai karya yang paling otentik, setelah al-Qur’an. Di antara dua karya itu, Shahîh al-Bukhârî mempunyai tingkat kesahihan lebih tinggi daripada Shahîh al-Muslim.